
batampos – Di tengah sorotan terhadap kualitas transportasi publik, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam sepanjang 2025 membangun 10 unit halte baru dengan total anggaran sekitar Rp900 juta. Pembangunan fisik tersebut ditujukan untuk menunjang mobilitas masyarakat dan memperkuat layanan angkutan umum di sejumlah koridor padat aktivitas.
Namun, di saat halte-halte baru berdiri, kondisi halte lama yang rusak, kotor, dan minim perawatan masih menjadi keluhan warga di berbagai titik kota. Warga menilai, pembangunan belum sepenuhnya diimbangi dengan pembenahan fasilitas yang sudah ada.
“Saya lewat dari Batam Center menuju RSUD Batuaji, cukup prihatin. Banyak halte lama kondisinya seperti gudang sampah, kotor, penuh coretan, tak ada estetika. Tapi di dekatnya malah dibangun halte baru,” kata Nur, warga Batam Center, Selasa (3/2).
Baca Juga: Rekayasa Jaringan Picu Gangguan, Distribusi Air Tangki Keteteran
Ia juga menyoroti desain halte di kawasan Stadion Temenggung Abdul Jamal. Menurutnya, penempatan papan iklan di sisi kiri halte justru mengganggu ruang gerak penumpang.
“Harusnya iklan itu di atas atau di samping, bukan di area duduk. Haltenya saja sudah seadanya, ini malah makin sempit. Jujur, tidak mencerminkan kota modern,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Batam melalui Kepala Unit Pelayanan Transportasi Darat (UPTD), Bambang Sucipto, menjelaskan bahwa pembangunan 10 halte baru tersebut memang telah direalisasikan penuh pada 2025. Setiap unit dibangun dengan anggaran rata-rata sekitar Rp90 juta yang bersumber dari anggaran Dishub.
Halte baru itu ditempatkan di jalur dengan tingkat mobilitas tinggi serta lokasi yang selama ini menjadi titik naik-turun penumpang tanpa fasilitas memadai. Beberapa di antaranya berada di depan Stasiun Temenggung Abdul Jamal (Pandawa) serta dua titik di wilayah Batuaji, termasuk di depan Putri Hijau 1.
Selain itu, pembangunan halte juga dilakukan di sejumlah kawasan lain, yakni di depan Politeknik Negeri Batam, Plamo Garden (seberang SPBU), Bundaran Tembesi, Basecamp arah Tanjung Uncang, Bambu Kuning, Puskopkar, kawasan pertokoan Shangrila, hingga Batu Besar.
Baca Juga: Jalan Marina City Kerap Macet, Warga Minta Pelebaran dan Penertiban PK5
Di sisi lain, Dishub mengakui masih banyak halte lama yang kondisinya memprihatinkan. Kerusakan meliputi bangku patah, atap bocor, ukuran halte yang sempit, hingga coretan vandalisme yang mengganggu kenyamanan penumpang.
Menurut Bambang, perbaikan ringan terhadap halte lama tetap dilakukan setiap tahun secara bertahap, meskipun program renovasi besar-besaran belum berjalan. Ia menyebut kerusakan fasilitas tidak hanya dipengaruhi usia bangunan, tetapi juga ulah oknum yang merusak fasilitas umum.
“Kami tetap turun ke lapangan, cek kondisi, dan lakukan perbaikan sambil berjalan,” katanya.
Kondisi paling mencolok, lanjut dia, terdapat di wilayah Piayu dan Sei Beduk. Di kawasan tersebut, sekitar 10 unit halte masih digunakan masyarakat meski fasilitasnya dinilai jauh dari layak, baik dari sisi kenyamanan maupun perlindungan dari hujan dan panas.
“Nanti akan kita lakukan renovasi tahunan, dari Batuaji sampai Sei Beduk,” ujar Bambang.
Sementara itu, pembangunan halte di depan kawasan K-Square hingga kini belum terealisasi karena direncanakan menggunakan skema Corporate Social Responsibility (CSR) dari pihak pengelola kawasan. Meski komitmen pembangunan sempat disampaikan akan dilakukan pada November hingga Desember 2025, realisasinya belum terlihat.
“Itu akan kita tagih lagi. Janjinya memang akhir tahun kemarin,” tegasnya.
Baca Juga: Pastikan Sampah Diangkut di Seluruh TPS, Camat Sagulung Siapkan Patroli Rutin
Dishub juga mengungkapkan bahwa halte-halte di Batam kini turut menjadi sumber pendapatan daerah melalui pemasangan iklan. Setiap iklan dikenakan tarif Rp100 ribu per meter persegi per bulan, dengan sistem pembayaran sesuai durasi pemasangan.
“Semua iklan di halte itu berbayar per bulan, sesuai luas dan lama pemasangannya,” kata Bambang.
Halte baru tersebut dibangun pada titik-titik yang selama ini menjadi lokasi naik-turun penumpang. Adapun 10 lokasi halte baru yang telah dibangun meliputi:
1. Halte Politeknik Negeri Batam (depan kampus Poltek Batam)
2. Halte Plamo Garden (depan Perumahan Plamo Garden, seberang SPBU)
3. Halte Pandawa (depan Pendopo Pencak Silat Pandawa / Stasiun Temenggung Abdul Jamal)
4. Halte Bundaran Tembesi (dekat bundaran, setelah SPBU)
5. Halte Basecamp (jalur Tanjung Uncang menuju Bundaran)
6. Halte Bambu Kuning (depan Jalan Bambu Kuning)
7. Halte Puskopkar (depan Perumahan Puskopkar)
8. Halte Putri Hijau (seberang kawasan Putri Hijau, Batu Aji)
9. Halte Shangrila (depan pertokoan Shangrila)
10. Halte Batu Besar



