Selasa, 13 Januari 2026

105 Titik Rawan Banjir di Batam, Amsakar: Catchment Area Sudah Telanjang

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Banjir menggenangi Jalan S Parman Seibeduk, Senin (11/8). Foto. Sya’ban/ batampos.co.id

batampos – Wali Kota Batam yang juga Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, membeberkan faktor utama yang memicu semakin meluasnya banjir di Bandar Dunia Madani.

Menurutnya, persoalan itu tidak bisa dilepaskan dari pemanfaatan lahan secara masif beberapa tahun terakhir yang menyebabkan area tangkapan air atau catchment area makin berkurang.

“Beberapa wilayah yang kita sebut catchment area itu sudah mulai telanjang. Hujan dengan curah tertentu, misalnya di sekitar bandara, langsung melimpah ke Kepri Mall,” katanya, Rabu (27/8).

Baca Juga: Remaja 14 Tahun Terkunci Dalam Kontainer di Nongsa, Polsek Dalami Kemungkinan Lainnya

Ia mencontohkan, intensitas hujan sedang saja kini sudah cukup untuk menimbulkan genangan di pusat kota. Hal ini karena aliran air dari kawasan atas tidak lagi tertahan oleh vegetasi maupun area resapan yang semestinya berfungsi sebagai penyangga.

Selain faktor perubahan tata guna lahan, Amsakar juga mengakui pelebaran jalan yang dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir tidak sepenuhnya diikuti dengan pembangunan drainase yang seimbang.

“Pelebaran yang kita lakukan itu belum diikuti dengan drainase yang proporsional. Tapi ini karena keterbatasan anggaran. Ini harus kita hitung kemampuannya,” ujarnya.

Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah sedang menyusun rencana induk drainase kota. Kajian tersebut sudah melibatkan tim teknis yang turun ke seluruh kecamatan. Hasil pemetaan menunjukkan adanya 105 titik rawan banjir di Batam. Jumlah ini justru meningkat dibanding tahun sebelumnya.

“Jadi bukan berkurang, malah bertambah. Ini yang membuat kita harus bergerak lebih sistematis agar penanganan banjir bisa lebih terarah,” ujar Amsakar.

Baca Juga: Kolaborasi Mayapada-Apollo Hospitals, Bangun RS Internasional Senilai Rp1 Triliun di Batam

Langkah awal yang sudah ditempuh tahun ini adalah pembangunan sistem pompa air di kawasan Jodoh. Pompa tersebut difungsikan untuk mempercepat aliran air ketika hujan deras mengguyur, sehingga genangan tidak bertahan lama. Lalu le depan, Amsakar memastikan program serupa akan diperluas.

“Untuk tahun 2026, akan dilanjutkan di beberapa titik yang lain. Kita berharap langkah ini bisa mengurangi dampak banjir, meskipun persoalan utamanya tetap soal tata ruang dan drainase yang perlu kita perbaiki secara menyeluruh,” katanya. (*)

 

Reporter: Arjuna

Update