
batampos – Sebanyak 21 jemaah haji dari Embarkasi dan Debarkasi Batam wafat di Tanah Suci hingga Senin, 16 Juni 2025. Jemaah yang wafat berasal dari empat provinsi yang tergabung dalam Debarkasi Batam, yakni Kepulauan Riau (Kepri), Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat (Kalbar).
Data ini menunjukkan bahwa Provinsi Jambi mencatat angka tertinggi dengan total delapan jemaah wafat. Disusul Provinsi Riau sebanyak tujuh orang, Kalimantan Barat empat orang, dan Kepulauan Riau dua orang.
Sekretaris Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Batam, Zulkarnain Umar, menyampaikan bahwa mayoritas jemaah wafat disebabkan oleh faktor kesehatan yang berkaitan dengan usia lanjut serta penyakit bawaan. Penyebab umum kematian antara lain syok kardiogenik (cardiogenic shock), gangguan pernapasan akut (adult respiratory distress syndrome), dan serangan jantung (acute myocardial infarction).
“Kami mencatat hingga tanggal 16 Juni 2025, ada 21 jemaah dari Debarkasi Batam yang meninggal dunia di Tanah Suci. Sebagian besar merupakan jemaah lanjut usia dengan kondisi kesehatan yang memang sudah rentan sejak dari Tanah Air,” ujar Zulkarnain.
Dari total jemaah yang wafat, sebagian besar meninggal di Kota Makkah saat menjalankan rangkaian ibadah puncak haji, seperti wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, dan melontar jumrah di Mina. Sisanya wafat di Madinah saat mengikuti kegiatan ibadah Arbain di Masjid Nabawi.
“Jemaah yang wafat telah dimakamkan di pemakaman setempat, seperti Baqi, Sharaya, Dahban, hingga Mina dan Thaif, tergantung lokasi wafatnya,” jelas Zulkarnain.
Zulkarnain juga menambahkan bahwa saat ini masih ada satu orang jemaah dari Kloter 1 asal Kepulauan Riau yang sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Arab Saudi di Makkah. PPIH bersama petugas kloter dan tenaga medis terus memantau perkembangan kesehatan yang bersangkutan.
“Kondisi beliau masih terus dipantau. Kami sudah siagakan pendamping dari petugas kesehatan untuk mendampingi selama masa perawatan,” ujarnya.
PPIH mengimbau kepada seluruh jemaah yang masih berada di Tanah Suci untuk senantiasa menjaga kesehatan, banyak minum air putih, dan tidak memaksakan diri mengikuti aktivitas di luar ketentuan apabila kondisi tubuh tidak mendukung.
“Kami mengingatkan kembali agar jemaah mengutamakan keselamatan dan kesehatan selama menjalani ibadah. Petugas juga terus melakukan edukasi dan pemantauan kepada jemaah, terutama lansia dan jemaah risiko tinggi (risti),” katanya. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



