Kamis, 15 Januari 2026

223 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak Terjadi di Batam Sepanjang 2025

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Foto: Jawapos.com

batampos – Angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Batam masih tinggi. Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kota Batam mencatat 223 kasus sepanjang Januari hingga Agustus 2025. Dari jumlah tersebut, 49 kasus menimpa perempuan dan 174 kasus dialami anak.

Kepala UPTD PPA Kota Batam, Dedy Suryadi, mengatakan, kasus kekerasan terhadap perempuan paling banyak didominasi oleh kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan 15 kasus. Kemudian kekerasan seksual sebanyak 10 kasus, kekerasan fisik 6 kasus, serta 17 kasus lainnya.

“Untuk kategori perempuan, kami belum menerima laporan terkait kekerasan psikis, penelantaran, maupun tindak pidana perdagangan orang (trafficking) selama periode ini,” jelasnya.

Sementara untuk korban anak, lanjut Dedy, kasus terbanyak adalah kekerasan seksual yang mencapai 127 kasus. Disusul 25 kasus kekerasan fisik, 6 kasus KDRT, 4 kasus trafficking, 1 kasus penelantaran, 1 kasus kekerasan psikis, serta 10 kasus lainnya.

“Data ini menunjukkan bahwa anak masih menjadi kelompok paling rentan, terutama terhadap kekerasan seksual. Setiap laporan yang masuk langsung kami tindaklanjuti agar korban mendapatkan perlindungan dan penanganan yang tepat,” ujarnya.

Dedy menegaskan, UPTD PPA Batam memberikan layanan terpadu bagi korban, mulai dari pendampingan psikologis, bantuan hukum, hingga rujukan medis jika diperlukan. Selain itu, pihaknya juga menggencarkan sosialisasi pencegahan ke masyarakat, sekolah, hingga komunitas.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melapor jika menemukan atau mengalami kasus kekerasan.

“Kesadaran masyarakat untuk melapor sangat penting agar kasus dapat ditangani sejak dini dan korban segera mendapat perlindungan,” tegas Dedy.

Menurutnya, pencegahan dan penanganan kasus kekerasan membutuhkan sinergi bersama antara pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, hingga lingkungan keluarga. “Dengan kerja sama semua pihak, angka kekerasan di Batam bisa ditekan,” tutupnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update