
batampos – Sebanyak 258 Pekerja Migran Indonesia (PMI) dipulangkan melalui Pelabuhan Feri Internasional Batamcentre, Kamis (11/12). Pemulangan dilakukan dalam dua gelombang.
Rombongan pertama berjumlah 101 orang dan tiba sekitar pukul 15.00 WIB. Disusul rombongan kedua yang membawa 157 PMI dan tiba pada pukul 16.00 WIB.
Kepala BP3MI Kepri, Kombes Imam Riyadi, mengatakan PMI yang tiba berasal dari dua titik berbeda di Malaysia. Kloter pertama merupakan bagian dari Program M yang dipulangkan melalui Pasir Gudang. Sementara kloter kedua berasal dari Tanjung Laut.
“Total keseluruhannya ada 258 PMI yang tiba hari ini,” ujar Imam.
Baca Juga: 7 Tersangka Kasus Dugaan Korupsi Proyek Dermaga Batuampar Dilimpahkan ke Kejaksaan
Selain pemulangan program resmi, ada pula 150 PMI yang kembali secara mandiri. Mereka masuk melalui pelabuhan yang sama pada jadwal berbeda sepanjang Kamis sore.
“Jadi ada PMI yang pulang secara mandiri juga,” ucapnya.
Imam menambahkan, tidak semua PMI yang tiba dalam kondisi sehat. Ada yang sakit, ada anak-anak, bahkan terdapat bayi dan seorang PMI yang harus dibawa menggunakan kursi roda.
Data rinci mengenai jumlah laki-laki, perempuan, anak-anak, serta kategori deportasi sedang diverifikasi agar tidak terjadi kekeliruan.
“Kami tidak ingin datanya rancu. Setelah selesai pendataan, akan kami sampaikan rinciannya,” kata Imam.
BP3MI memberikan layanan dasar kepada seluruh PMI yang baru keluar dari rumah detensi. Menurut Imam, kondisi fisik maupun mental deportan umumnya tertekan akibat masa penahanan yang cukup panjang oleh otoritas Malaysia.
“Langkah kami antara lain pengobatan, trauma healing, pendataan, dan pendalaman. Kami ingin mengetahui mereka berangkat lewat mana, siapa yang memberangkatkan, berapa biaya dikeluarkan,” jelasnya.
Baca Juga: Motor Rem Blong, Pemuda 21 Tahun Tewas Terlindas Truk Kontainer di Jalan Yos Sudarso
Salah satu PMI yang tiba menggunakan kursi roda disebut mengalami kondisi tubuh yang lemah akibat alergi obat saat masih berada di tahanan. “Karena alergi obat, jadi badannya lemah semua,” ujar seorang pendamping yang mendorong kursi roda PMI tersebut.
Dari pantauan di lapangan, beberapa PMI juga membawa anak-anak. Sebagian terlihat masih terguncang, sementara lainnya berusaha menenangkan buah hati mereka setelah melewati perjalanan panjang dari pusat detensi Malaysia.
Seorang PMI perempuan mengaku harus membawa anaknya kembali ke Indonesia tanpa sang suami. Ia menjelaskan bahwa ia menikah sesama PMI saat masih bekerja di Malaysia.
“Suami saya tinggal di Malaysia, jadi anak saya bawa pulang,” ujarnya lirih.
Pemulangan ratusan PMI difasilitasi KJRI Johor Bahru. BP3MI memastikan seluruh PMI akan ditempatkan sementara di shelter sebelum dipulangkan ke daerah asal masing-masing. Proses pendataan dan pengecekan kesehatan akan dilakukan secara bertahap.
Imam menegaskan pemulangan massal ini. “Kami terus berkoordinasi dengan instansi terkait agar hal serupa tidak terulang,” katanya. (*)



