Jumat, 16 Januari 2026
spot_img

Berita Terkait

spot_img

batampos – Nggak semua bayi terlahir beruntung. Kasus penelantaran bayi masih marak terjadi. Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada 212 kasus pembuangan bayi mulai 2020 hingga Juni 2021. Kenyataan itu membuat hati Maggha Karaneya Kang tergerak untuk mendirikan yayasan perlindungan bagi bayi-bayi telantar. Dia bahkan rela melanjutkan pendidikan jalur homeschooling agar bisa mengurus yayasan tersebut.

Founder Yayasan Metta Mama dan Maggha

Gadis yang akrab disapa Maggha itu ingin para bayi tersebut mendapat kesempatan kedua. Dengan demikian, mereka menemukan keluarga dan merasakan kasih sayang. ’’Pas adik ulang tahun, dia ingin merayakannya di sebuah yayasan bayi telantar. Namun, fasilitas di sana kecil, sedangkan bayi yang telantar jumlahnya banyak. Saat itu juga, Maggha bilang ke mama kalau ingin mendirikan yayasan untuk merawat bayi telantar,’’ ungkap gadis asal Bali tersebut.

Namun, keluarganya sempat ragu karena usia Maggha masih sangat muda. Dia nggak menyerah begitu saja. Maggha pun mendapat dukungan dari sang nenek yang ingin mendanakan rumah untuk dijadikan yayasannya. Mamanya kemudian mengurus izin ke dinas sosial. Pada 2015, yayasan yang diberi nama Metta Mama dan Maggha resmi berdiri.

Foto – Foto : Maggha Karaneya Kang Untuk Zetizen

Sebagai ketua yayasan, Maggha terlibat secara langsung dalam mengelola yayasan. Bersama kedua orang tuanya, dia mempelajari semua sie di yayasan selama enam tahun. Termasuk belajar cara menyapu, mengepel, merawat bayi, hingga psikologi anak dan ibu hamil secara otodidak. Maggha juga membuat program permainan motorik anak usia 12 bulan, lho! Dia selalu memperhatikan perkembangan para bayi agar tumbuh penuh cinta kasih, percaya diri, dan mandiri.

Foto – Foto : Maggha Karaneya Kang Untuk Zetizen

’’Kesulitan mengelola yayasan itu menemukan tim yang mengerti visi dan misi yayasan. Melatih agar semua orang yang bekerja di yayasan menyadari bahwa mereka nggak hanya bekerja sesuai bidangnya, tetapi juga bekerja di bidang yang mereka cintai. Sebab, bekerja di yayasan memberi kita kesempatan untuk menanam karma baik dengan merawat bayi-bayi tersebut,” sambungnya.

Ke depannya, Maggha ingin mengembangkan yayasan dengan mengelola Rumah Aman. Tempat untuk ibu hamil yang ditolak keluarga. Atau, yang sudah nggak punya solusi untuk kehamilannya. Mereka akan mendapatkan nutrisi, pemeriksaan dokter kandungan dan bidan secara berkala, senam hamil, dan counseling session. Maggha akan membuat kegiatan produktif bagi ibu hamil seperti cara membuat sabun mandi dan kursus kue kering.

Perjalanan Maggha dalam mendirikan dan mengelola Yayasan Bayi terlantar terpilih sebagai Kick Andy Young Heroes 2019

Gadis kelahiran 1999 itu juga punya impian untuk mendirikan sekolah yang lebih mengedepankan budi pekerti. Dia akan mempelajari sistem pendidikan di luar negeri. Mulai sistem pendidikan anak di Jepang yang mengajarkan sikap sopan santun, sosialisasi, hingga cara melayani lingkungan sekitar. Atau, sistem pendidikan di Finlandia yang mengarahkan siswa untuk fokus pada hal yang disenangi. Dengan begitu, sekolah menjadi lebih fun dan nggak menjadi beban untuk anak.

Kini Yayasan Metta Mama dan Maggha telah merawat puluhan bayi telantar dan lima ibu hamil. ’’Belajar adalah hal yang akan kita lakukan terus-menerus. Jadilah pribadi yang mudah dinasihati, menghargai lingkungan sekitar, dan gemar menolong. Melakukan perbuatan baik sekecil apa pun patut kita praktikkan setiap saat. Semakin banyak me­nolong orang, kita akan mencipta­kan surga di hati,’’ tandasnya. Terus tumbuh semangat muda yang meng­inspirasi! (arm/c12/lai)

 

” Ketika Harus Merawat Bayi Terlantar “

Reporter : Vany Aliffia
Editor : Agnes Dhamayanti

Dari cerita seorang Maggha Karaneya dengan usia yang masih sangat muda, ia memutuskan untuk merawat bayi-bayi yang ditelantarkan oleh orang tuanya. Tetapi yang pastinya dengan memutuskan untuk merawat bayibayi terlantar ada banyak penyesuaian bagi semua orang di lingkungannya, terutama orang tua. Penyesuaian tersebut bisa berupa bentuk perawatan baik secara fisiknya maupun kebutuhannya. Nah bagaimana sih pendapat dari teman-teman Zets cara merawat perkembangan bayi dengan benar? (*)

F. Dokumentasi Pribadi

Angel Rosinta Uli Simorangkir
Universitas Internasional Batam
@angelsmrngkr

Dengan banyaknya kasus menerlantarkan anak teritama bayi. Tidak segan -segan ada seseorang yang mau membantunya. Tetapi dengan meawat seorang bayi ada cara khusus agar tidak terjadi kesalahan yang membahayakan apalagi di pengalaman pertama seperti Maggha Karaneya. Dengan meraway bayi nitih komitmen dan kemauan yang besar karena bayi membutuhkan perhatian dan bimbingan yang positif untuk tumbuh sehat dan bahadia. Yang pertama pastinya ganti popok, sekitar 10 kali sehari. Jika popoknya sudah basah, gunakan air, bola kapas, dan lap untuk membesihkan bayi dengan lembut. Berkutnya adalah memandikannya secara dua atau tiga kali seminggu di tahun pertama. Namun, keseringan mandi mungkin akan membuat kulit bayi kering. Yang terpenting selalu cuci tangan atau gunakan pembersih tangan sebelum memegang bayi ataupun ingin merawatnya karena sistem kekebalan tubungnya belum terlalu kuat dan mereka sangat rentan terinveksi virus. (*)

F. Dokumentasi Pribadi

Mayada Nifsi Fatmawati
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
@mayadanspi_

Menurutku, mengurus atau merawat anak butuh penyesuaian dan pelajaran yang cukup agar tidak salah untuk merawatnya. Cara merawat bayi dengan benar adalah bersihkan kotoran di mata bayi, lakukan perawatan bayi dengan membersihkan kulitnya secara berkala, bersihkan mata, telinga dan hidungnya ini dapat dibersihkan dengan kapas bersih yang sudah dibasahkan dengan air hangat. Bersihkan mulai dari arah hidung ke luar. Jika  ditemukan tanda infeksi pada mata, seperti bengkak, merah, dan mengeluarkan nanah segera bawa ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Kotoran telinga tidak perlu dibersihkan secara rutin karena kotoran akan keluar ketika cukup besar dan lunak. Cuci rambut bayi dengan shampo khusus, jangan menggunakan shampo dewasa!,  dan lakukan pemeriksaan fisik bayi. (*)

Update