
batampos – Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, berharap angka kemiskinan berkurang dan lapangan pekerjaan terbuka lebar seiring membaiknya perekonomian, dan pengendalian Covid-19.
Ia berharap ke depan perekonomian terus membaik, dan serapan tenaga kerja kembali meningkat, seiring dilonggarkan aturan masuk bagi wisman. Rudi menyampaikan harapan bagi kota Batam adalah kesejahteraan yang meningkat.
“Kalau ingin saya, Batam bisa mandiri dan lebih baik. Termasuk dalam pengendalian orang miskin. Semakin berkurang angka kemiskinan maka daerah akan dinilai sukses dalam menjamin kesejahteraan masyarakatnya,” ujarnya, Minggu (22/5).
Selain angka kemiskinan, ketersediaan lapangan kerja juga diharapkan semakin meningkat. Batam masih menjadi pilihan bagi pencaker, artinya kemampuan Batam masih diakui.
Selama dua tahun menghadapi Covid-19 berbagai upaya dilakukan termasuk dalam memanfaatkan bantuan pemerintah pusat.
Melalui usulan dari daerah, banyak masyarakat kurang mampu mendapatkan bantuan, bahkan pelaku usaha juga mendapatkan bantuan permodalan.
“Ini sudah dilakukan dua tahun terkahir. Sekarang saatnya untuk bangkit. Usaha silakan dimulai kembali, sehingga akan menyerap tenaga kerja. Target kita semua percepatan pemulihan ekonomi di Batam,” tegasnya.
Seperti diketahui, selama dua tahun terakhir angka kemiskinan di Kota Batam mengalami kenaikan.
Hal ini tidak terlepas dari berbagai faktor. Pertama akibat kehilangan pekerjaan, karena ditutupnya pintu masuk wisatawan mancanegara (wisman) ke Batam. Hampir 80 persen yang terdampak adalah mereka yang bekerja di sektor pariwisata.
Kedua banyak hotel, restoran, agen perjalanan yang tutup karena tidak ada tamu yang harus mereka layani, meskipun masih ada beberapa yang bertahan dengan melakukan berbagai kebijakan, agar usaha mereka tetap berjalan.
Awal tahun lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau (Kepri) mencatat jumlah penduduk miskin di Kepri sepanjang September 2020 bertambah sebanyak 142.611 orang atau 6,13 persen dari total keseluruhan penduduk Kepri.
Kepala BPS Kepri, Agus Sudibyo, mengatakan kenaikan angka penduduk miskin di Kepri, dipicu karena pandemi covid-19.
Angka tersebut bertambah sebanyak 10.645 orang, dibanding Maret 2020 yang sebesar 131.966 orang.
“Artinya dalam rentang waktu enam bulan, ada penambahan sekitar 10.000 orang penduduk miskin di Kepri,” kata Agus.
Sementara, periode September 2020 ke Maret 2021 jumlah penduduk miskin di Kepri naik6,12 persen atau 1.852 orang. Ia menyebutkan September 2020 jumlah warga miskin Kepri 142.611 orang, naik menjadi 144.462 orang di Maret 2021.
Berdasarkan data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS) Batam untuk saat ini total warga miskin yang tercatat saat ini berjumlah 52.513 Kepala Keluarga (KK).
Selama pandemi angka kemiskinan di Batam diakuinya mengalami peningkatan. Hal ini terdaftar berdasarkan laporan dari tingkat lurah.
“Selama pandemi banyak yang mengusulkan diri untuk masuk sebagai penerima bantuan dari pusat. Banyak dari mereka merupakan korban PHK sehingga tidak mempu membiayai kehidupan keluarga mereka,” sebut Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos-PM) Batam, Hasyimah.
Pihaknya selama dua tahun terakhir berupaya memaksimalkan bantuan dari pusat. Hal ini terbukti selama pandemi hampir semua program pengentasan kemiskinan yang gelontorkan pusat, berhasil disalurkan di Batam, termasuk bansos minyak goreng beberapa waktu lalu.
Seiring membaiknya perekonomian, ia berharap data kemiskinan di Batam bisa berkurang. Untuk mengetahui hal ini, pihaknya bersama petugas DTKS akan melakukan verifikasi.
“Setiap tahun selalu verifikasi, sebelum akhirnya ditetapkan berapa jumlah DTKS di Batam. Mudah-mudahan ada penurunan, karena kondisi terus membaik,” harapnya.(*)
Reporter: Yulitavia



