Sabtu, 14 Maret 2026

414 Warga Batam Terinfeksi Demam Berdarah

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Ketua RW 08 Perumahan Barelang-Central Raya, ikut turun bersama warga mengasapi parit dan area di sekitar rumah warga untuk mengusir nyamuk penyebab DBD. Foto: Dalil Harahap/batampos.co.id

batampos – Jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) mengalami peningkatan signifikan dibandingkan 2021. Sejak Januari hingga akhir Juni 2022 ini, sebanyak 414 warga terdeteksi menderita penyakit tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, jumlah pasien DBD per 29 Juni 2022 sebanyak 414 kasus.

“Dari jumlah ini sebanyak dua orang diantaranya meninggal dunia,” ujarnya.

Menurut Didi, ratusan penderita tersebut tersebar di seluruh puskemas di kecamatan Kota Batam. Ia menyebutkan, kasus tertinggi terjadi di bulan Januari tahun ini yakni sebanyak 85 kasus.

Turun menjadi 65 kasus di Bulan Februari dan naik lagi menjadi 75 kasus di Bulan Maret 2022. Pada bulan April kasus DBD di Batam berjumlah 62 kasus, Mei 65 kasus dan sampai dengan 29 Juni ada 65 kasus.

“Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu ada 332 kasus DBD,” tambah Didi.

Untuk membandingkan, ia mengungkapkan, jumlah kasus DBD di tahun sebelumnya. Berdasarkan data Dinkes Kota Batam, jumlah penderita DBD di 2018 sekitar 639 dengan angka kematian 2 orang.

Total angka ini terhitung dari Januari hingga Desember di tahun lalu. Selanjutnya pada tahun 2019 ada 728 kasus DBD dengan jumlah kematian dua orang.

Lalu pada tahun 2020 ada 763 kasus DBD dengan angka kematian 4 orang dan tahun 2021 ada 710 kasus DBD dengan jumlah kematian yakni 4 orang.

Demam berdarah memiliki sejumlah gejala bagi penderitanya. Diantaranya, demam tinggi mendadak dengan suhu di atas 38 derajat Celcius, timbul bintik-bintik merah di kulit, sakit kepala, nyeri saat menggerakan bola mata, mudah gelisah, nyeri punggung, badan terasa lemah dan lesu.

Kemudian ujung tangan dan kaki berkeringat, muntah, kadar trombosit turun hingga 100.000/mm3, terkadang disertai mimisan dan buang air besar bercampur darah hingga uluhati terasa nyeri.

“Jika merasakan gejala-gejala di atas, segera periksakan diri ke puskesmas,” imbaunya.

Kondisi musim penghujan di tahun ini menjadi salah satu faktor peningkatan DBD di tahun ini. Didi menyebutkan disaat curah hujan biasanya populasi nyamuk aedes aegypti penyebab DBD meningkat. Peningkatan ini tentunya juga meningkatkan penularan penyakit DBD khususnya di masyarakat.

“Kasus DBD ini bersifat fluktuatif. Di saat musim hujan, penyakit DBD akan meningkat,” tambahnya.

Didi menghimbau bagi masyarakat untuk selalu hidup bersih. Selain itu diharapkan juga peranaktif masyarakat dalam mencegah penyebaran DBD ini, semisal menguras, menutup dan mengubur tempat-tempat yang jadi sarang nyamuk aedes aegypti.

“Tidak ketinggalan kita juga terus memberikan penyuluhan ke masyarakat dan aktif menggalakan peran juru pemantau jentik (jumantik) dengan program Gerakan 1 rumah 1 jumantik,” tutupnya.(*)

Reporter: Rengga Yuliandra

SALAM RAMADAN