Selasa, 31 Maret 2026

6 Kasus Bunuh Diri di Awal Tahun, Tanda Banyak Warga Batam Alami Ruminasi

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Tim Inafis mengevakuasi jasad Pr, pria muda yang bunuh diri di malam tahun baru. F. Yofi Yuhendri/Batam Pos.

batampos – Kasus bunuh diri di Kota Batam kembali marak dalam awal tahun 2026 ini. Tercatat enam kasus bunuh diri yang terjadi di beberapa lokasi, seperti di Jembatan Barelang, Bengkong, Batam Centre, dan Sekupang.

Psikolog Irfan Aulia mengatakan, sebagian besar orang yang berada dalam kondisi tersebut umumnya mengalami ruminasi, yakni pikiran negatif yang terus berulang dan sulit dihentikan.

Pikiran tersebut biasanya berkaitan dengan masalah hidup, tekanan ekonomi, konflik keluarga, pekerjaan, hingga penilaian buruk terhadap diri sendiri. Ketika berlangsung terus-menerus, seseorang dapat merasa lemah dan tidak mampu lagi menghadapi persoalan yang dihadapinya.

“Pada dasarnya, orang yang berada dalam kondisi tersebut mengalami ruminasi, berpikir buruk terus-menerus tentang dirinya maupun situasinya. Akibatnya, ia merasa lemah dan tidak berdaya menghadapi masalah,” ujar Irfan.

Baca Juga: Pakai Trik Dilempar, 4 Paket Sabu Diselundupkan ke Lapas Batam

Ia menjelaskan, sebelum seseorang berada pada titik paling rentan, biasanya ada tahapan yang dialami. Mulai dari rasa tidak berdaya, kesepian, hingga keyakinan bahwa penderitaan yang dirasakan tidak akan berakhir.

“Orang yang berada dalam kondisi ini umumnya melewati fase merasa sendiri, tidak punya tempat bercerita, dan menganggap tidak ada lagi jalan keluar,” katanya.

Menurut Irfan, tekanan ekonomi memang kerap muncul dalam banyak kasus. Namun, persoalan tersebut biasanya hanya menjadi pemicu, bukan penyebab utama.

“Tekanan ekonomi biasanya hanya pemicu. Umumnya, orang yang mengalami kondisi seperti ini sudah memiliki beban psikologis atau riwayat masalah sebelumnya,” ungkapnya.

Baca Juga: Penataan Kawasan New Nagoya Masuki Tahap Awal, Pekerjaan Fisik Dimulai Tahun Ini

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya mencari pertolongan sejak dini ketika mulai merasa tertekan, kehilangan semangat, atau terus-menerus memikirkan hal-hal negatif. Bantuan bisa datang dari keluarga, teman dekat, tokoh agama, maupun tenaga profesional.

“Ketika mulai merasa tertekan, carilah tempat yang membuat aman dan nyaman. Bisa berbicara dengan keluarga, sahabat, tokoh agama, atau meminta bantuan psikolog,” ujarnya.

Ia menilai dukungan sosial menjadi faktor penting untuk membantu seseorang melewati masa-masa sulit. Kehadiran orang yang mau mendengar dan tidak menghakimi dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian.

“Ketika seseorang merasa aman dan mendapat dukungan sosial, ia akan lebih mudah melewati titik terendahnya. Saat ada tempat bercerita dan orang yang dipercaya, harapan untuk pulih akan jauh lebih besar,” tutupnya.(*)

 

UPDATE