batampos – 94.384 warga Batam menganggur. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, tingkat pengangguran terbuka di Kota Batam berada di angka 11,64 persen pada Agustus 2021. Tertinggi dibandingkan kabupaten dan kota lain di Kepri.

”Angka pengangguran Kepri sendiri mencapai 9,91 persen,” ujar Kepala BPS Kota Batam, Rahmad Iswanto, kemarin.
Sementara itu, bila dibandingkan 2020, tingkat pengangguran di Batam turun 0,15 poin, yakni berada di angka 11,74 persen. Selanjutnya, penduduk usia bekerja di Batam saat ini berjumlah 1.140.614 orang. Angka ini meningkat 49.491 orang dibandingkan tahun lalu.
Dari seluruh penduduk usia kerja, 716.163 orang di antaranya sudah bekerja. Angka ini bertambah 58.551 orang. Sementara itu, untuk pengangguran di Batam mencapai 94.384 orang dan bukan angkatan kerja 330.307 atau mengalami penurunan 15.541 orang.
”Ya, pengangguran di Batam saat ini berjumlah 94.384 orang,” sebut Rahmad.
Bila dilihat menurut jenis kelamin, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka lelaki relatif menurun. Jika pada Agustus 2020 sebesar 12,32 persen, maka pada tahun ini sebesar 10,99 persen.
Sebaliknya, tingkat pengangguran terbuka pada perempuan justru meningkat, dari 10,89 persen pada Agustus 2020 menjadi 12,7 persen pada 2021.
Ia mengatakan, struktur lapangan pekerjaan utama di Kota Batam mengalami perubahan dalam setahun terakhir.
Jumlah penduduk yang bekerja pada sektor manufaktur berkurang 2,95 persen, sedangkan pada sektor jasa meningkat 1,85 persen, dan pertanian 1,09 persen.
Sementara itu, dilihat dari statusnya, pekerja informal di Batam meningkat, dari 29,66 persen pada Agustus 2020 menjadi 30,63 persen pada Agustus 2021. Dan yang terbanyak adalah pekerja keluarga atau tidak dibayar.
Sedangkan jumlah pekerja formal mengalami penurunan 0,97 persen poin ke poin. Tercatat pada Agustus 2020 sebanyak 70,34 persen, dan Agustus menjadi 69,37 persen.
”Semakin ke sini, dari 2019, ke 2020 ke 2021, pekerja informal memiliki kontribusi lebih tinggi dibanding pekerja formal,” kata dia.
Tingginya angka pengangguran di suatu daerah kerap dikaitkan dengan tingginya angka kriminalitas di daerah tersebut. Namun, nyatanya, Kepolisian Republik Indonesia (Polri), menyuguhkan fakta yang berlawanan dengan kekhawatiran masyarakat.
Rilis terbaru Korps Bhayangkara menyebut, tingkat kriminalitas di Indonesia justru menurun 27,03 persen pada pekan ke-21 tahun 2020, atau berkurang 1.010 kasus bila dibandingkan pekan sebelumnya. (*)



