
batampos – Pemerintah Indonesia sudah mengizinkan pelaksanaan Travel Bubble untuk wilayah Nongsa, Batam dan Lagoi, Bintan sejak Januari 2022 lalu. Namun faktanya, hingga kini belum ada satupun turis dari negeri tetangga Singapura yang masuk melalui fasilitas Travel Bubble tersebut.
Ketua Nongsa Sensation, Andy Fong mengatakan, permasalahannya adalah belum adanya izin pelayaran dari pihak Singapura. “Pemerintah Singapura belum memberikan izin fery keluar masuk pelabuhannya,” kata Andy kepada Batam Pos, Selasa (8/2).
Namun, Andy mengatakan tidak dapat memastikan, kapan izin diberikan oleh Pemerintah Singapura. Ia berharap izin diberikan secepatnya, sehingga kapal fery dapat membawa wisatawan dari Singapura menuju ke Kawasan Nongsa Sensation.
“Minggu lalu mungkin masih liburan, semoga minggu ini keluar izinnya,” tutur Andy.
Andy mengatakan, izin pelayaran ini sangat penting, untuk mengatahui bagaimana aturan lainnya di Singapura.
“Jika izin keluar masuk ferry diberikan, mungkin selanjutnya baru diketahui aturan karantina di Singapura. Sejauh ini, kami masih meraba-raba aturan disana,” ujarnya.
Saat ditanyakan kesiapan dari pengelola kawasan pariwisata di Nongsa Sensation, Andy mengaku segalanya sudah direncanakan dengan baik. Perencanaan ini mulai dari kedatangan wisatawan, hingga mereka pulang kembali ke Singapura.
“Alurnya, pengelolaan, protkes semuanya sudah kami siapkan. Tinggal wisatawannya saja,” ujarnya.
Sembari menunggu berjalannya Travel Bubble, pelaku pariwisata di Nongsa menggelar berbagai promo. Tujuannya untuk menarik wisatawan lokal datang ke sana.
Andy mengatakan, untuk resort Batam View, saat ini menawarkan paket Valetine Day, dengan mengusung teman Romantic Dinner by The Beach.
“Jika menginap, kami tawarkan dengan harga Rp 1,5 juta saja. Kalau hanya makan malam cuma Rp 799 ribu,” kata Andy.
Terkait belum adanya kunjungan wisatawan sejak Travel Bubble dibuka di Nongsa dan Lagoi, kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar mengatakan, kedatangan wisman ini tidak bisa instan.
“Kita sudah berusaha, akhirnya diberikan Travel Bubble. Pelaku pariwisata pun sudah mencoba menawarkan promo, istilahnya sudah dibujuk-bujuk untuk datang. Namun, masih juga belum ada yang datang, kami masih tetap semangat,” ungkapnya.
Ia mengatakan, hubungan dari pemerintah ke pemerintah sudah berjalan, terkait pembahasan pembukaan pintu masuk perjalanan luar negeri dari dua negara (Indonesia dan Singapura. Namun, izin pelayaran ferry belum diberikan.
“Ini hanya tinggal B to B (Business to Business). Kami saat ini hanya bisa menunggu,” ujarnya.
Jika Travel Bubble berjalan lancar, tidak menutup kemungkinan sistemnya akan berubah menjadi Vaccinate Travel Land (VTL).
“Semoga saja begitu, lagian seluruh pelaku pariwisata di Nongsa dan Lagoi sudah mendapatkan vaksinasi booster,” ucapnya.
Ia berharap ke depan sektor kesehatan dan pariwisata dapat berdampingan. Satu sisi menjaga kesehatan, namun sisi lainnya dapat menjaring wisatawan masuk ke Kepri.
“Covid-19 mungkin bisa berlangsung lama, besok-besok mungkin ada lagi varian baru. Kami berharap dua sisi (Kesehatan dan Pariwisata) bisa berjalan berdampingan. Pariwisata ini sudah ambruk selama satu setengah tahun ini. Sekarang ini bagaiman menjaga kesehatan, sembari meningkatkan pariwisata,” pungkasnya. (*)
Reporter : FISKA JUANDA



