
batampos – Hari pertama dibukanya pintu kedatangan wisatawan mancanegara dari Singapura dan Malaysia di Pelabuhan Feri Internasional Batam Center, mendapat keluhan dari sejumlah penumpang.
Keluhan lebih kepada lambatnya pelayanan PCR dan pendaftaran yang dilakukan manual. Teddy, salah satu penumpang asal Indonesia yang bekerja di Singapura mengaku lebih dua jam antre untuk dilakukan PCR.
Ia menilai petugas yang bekerja juga kurang sigap, dan melayani satu per satu penumpang. Padahal, jumlah petugas kesehatan yang standby cukup banyak.
”Hampir dua tahun saya di Singapura, pas pulang kondisipelayanan PCR sangat mengecewakan. Sebelum berangkat kami sudah di-PCR, sampai di sini diminta PCR juga dan antre lebih dari 2 jam tanpa minum dan makan. Petugas yang nyolok cuma 1, dan pencatatan masih manual. Buang-buang waktu saja,” sesalnya.
Dikatakannya, aturan PCR sesampai di Batam sangat memberatkan, karena harus mengeluarkan biaya tambahan. Sebab di Singapura ia harus mengeluarkan biaya 185 dolar Singapura untuk PCR.
Sesampai di Batam, ia diminta PCR lagi dan dikenakan biaya lagi Rp 300 ribu.
”Sebelum hasil PCR kami keluar, diminta tinggal sehari di hotel dulu dengan biaya pribadi. Apa guna vaksin lengkap sampai 3 kali kalau harus PCR sampai dua kali. Ini jelas memberatkan kami,” imbuh Teddy.
Hal senada diungkapkan Bakti Mawan, penumpang lainnya. Ia juga mengeluhkan lambatnya pelayanan PCR di Pelabuhan Batam Center.
Bakti mengatakan, puluhan orang harus mengantre, sementara pelayanan untuk PCR-nya hanya satu orang.
”Sebanyak ini orang, pelayanan hanya satu orang. Hampir 2 jam saya antre. Ditambah tadi kapal lambat berangkat. Harusnya berangkat jam 12, malah sampai jam 4 sore,” terangnya.
Ia minta pemerintah agar kembali mengkaji aturan masuk ke Batam. Sebab untuk masuk ke Batam tak perlu dengan aturan yang sangat pelik.
”Masuk ke Singapura saja tak seketat itu,” keluhnya.
”Kalau ke Singapura, cukup PCR dari tempat yang berangkat. Di Indonesia malah dipersulit dengan aturan berulang.Padahal dah jelas kami negatif. Apa gunanya vaksin kalau masih tetap berulangkali nyolok hidung kami,” tegas dia.
Di tempat yang sama, Ahmad Samsuri, mengaku sempat kesal dengan lambatnya pelayanan PCR. Padahal, ia sudah tak sabar untuk bertemu keluarga di Batam.
”Hampir dua tahun saya tak pulang ke Batam. Sekalinya pulang pelayanan lambat seperti ini. Jujur saya sangat lelah, haus tak dapat minum selama dua jam,” imbuhnya.
Lepas dari pelabuhan ia diwajibkan menginap di Hotel Golden View sembari menunggu hasil PCR keluar. Ia juga menegaskan bahwa di Singapura sudah tidak ada lagi aturan seperti itu.
”Saya juga rindu masakan Indonesia. Tak sabar bertemu keluarga di sini,” terangnya.(*)
Reporter: Yashinta



