Kamis, 2 April 2026

Kualitas Udara di Batam Tidak Sehat

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Arus laluintas kendraraan terlihat ramai melintas di Jalan Ahmad Yani Batamcenter. KLHK sempat mencatat kualitas udara di Kota Batam dalam level tidak sehat pada Minggu (24/72022). Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
batampos – Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sempat mencatat kualitas udara di Kota Batam pada Minggu (24/7/2022) pukul 16.00 WIB dalam level tidak sehat. Bahkan, dari 39 stasiun di Indonesia, hanya Batam yang memiliki kualitas udara tidak sehat.
Sementara, 38 daerah lainnya berada di level baik dan sedang. Sebagaimana diketahui, berdasarkan data indeks standar pencemaran udara Batam pada Minggu mencapai angka 101. Angka tersebut menunjukkan kualitas udara dalam level
kategori tidak sehat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Herman Rozie, mengatakan, catatan kualitas udara tak sehat itu terjadi karena adanya pencemaran udara akibat aktivitas pembakaran sampah di dekat alat pemantau kualitas udara secara otomatis yang dikenal dengan Air Quality Monitoring System (AQMS).
Hal itu, mengakibatkan turunnya kualitas
udara di Batam.
”Kami sudah cek pada Minggu 24 Juli 2022 itu, ternyata pada sore hari Satpol PP melakukan goro (gotong royong) dan bakar sampah di area dekat alat AQMS kami yang berada di Mako Satpol PP (di Batuaji),” ujarnya, Rabu (27/7/2022).
Hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa jam setelah api pembakaran sampah itu padam, kualitas udara di Kota Batam kembali ke level sedang. Bahkan, Rabu (27/7/2022), indeks standar pencemaran udara Batam mencapai angka 54 dengan status sedang.
”Hanya pada saat itu saja terjadi penurunan kualitas udara, sehingga udara terpantau menjadi tidak sehat ketika aktivitas berlangsung. Setelah selesai pembakaran sampah, udara kembali normal dan baik,” tambahnya.
Herman manambahkan, jika tidak ada kebakaran di sekitar alat AQMS atau tidak ada kerusakan alat dan udara di Batam terdeteksi jelek, biasanya dari KLHK pusat akan langsung memberi informasi dan mengingatkan pemerintah di daerah tentunya.
”Melihat data time series bukan accident atau sekali saja, karena kalau sudah begitu patut diduga kualitas udara kita kurang sehat seperti banyak kabut asap kebakaran hutan beberapa waktu lalu,” pungkasnya.(*)
Reporter: Rengga Yuliandra

UPDATE