Sabtu, 17 Januari 2026

Momok bagi Pelaku Wisata, Pembuang Limbah Hitam Tak Pernah Tertangkap

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Bakamla RI dan tim gabungan melakukan pembersihan tumpahan minyak hitam di pantai Kampung Melayu, Batubesar. Foto: Bakamla RI untuk Batam Pos

batampos – Limbah minyak hitam menjadi momok menakutkan bagi masyarakat yang berada di pesisir utara Batam. Pelaku pembuang limbah hitam yang diduga sebagai slug oil dan termasuk dalam kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), tidak pernah tertangkap.

Meskipun, kasus limbah hitam sudah seperti musim durian, yang ada sekali atau bahkan dua kali dalam setahun. Kondisi ini, tidak hanya dikeluhkan oleh masyarakat di pesisir utara Batam maupun nelayan, tapi juga pelaku-pelaku pariwisata.

Saat ini, pariwisata baru saja mulai bertumbuh. Problem limbah hitam, menjadi salah satu momok yang ditakutkan pelaku pariwisata.

“Efeknya, pariwisata jadi tak bagus,” kata Nongsa Resort Group Director, Gerald Hendrick, Rabu (3/5).

Baca Juga: Tumpahan Limbah Hitam di Laut Batam, Nuryanto: Cari Siapa yang Bertanggung Jawab

Sebab, wisatawan yang menginap di beberapa resort kawasan Nongsa, akan melihat kondisi hal ini. Pastinya penampakan ini menjadi pembicaraan para wisatawan.

Serangan limbah hitam ini, datang di 1 Januari. Akibatnya, Nongsa Resort menutup area pantai dan wisatawan tidak diperbolehkan sementara waktu berenang di pantai.

Padahal, salah satu keunggulan dari Nongsa Resort pantai yang indah dan air laut yang jernih. “Kami bersyukur, sebab begitu menelpon dari pihak pemerintah daerah, langsung datang dan membantu membersihkan pantai,” ucap Gerald.

Gerald mengatakan, problem ini sudah menahun. Sejak, dia bekerja di Nongsa Resort sampai saat ini, tidak ada solusi permanen atas permasalahan ini. Dia mengaku, tahu bahwa pembuang limbah ini kemungkinan di perairan internasional.

“Ibarat orang mencuri, mereka pasti tidak akan kasih tahu kapan buang limbah. Limbah ini terbawa arus, hingga ke pantai-pantai di Batam,” ujarnya.

Baca Juga: Kasus Judi Higgs Domino Harus Ada Bukti Perjudian

Ia berharap, ada penindakan tegas terhadap pembuang limbah. “Tangkap saja, buat jera. Kasih denda yang besar, karena mencemari lingkungan serta merusak ekosistem pariwisata,” ujarnya.

Lizawali, petugas yang bertanggung jawab di kawasan pantai Nongsa Resort mengatakan, bahwa limbah hitam menjadi pekerjaan tiap tahun baginya. Kadang setahun sekali, terkadang dua kali setahun.

Pekerjaan ini, seolah-olah tak pernah selesai. Sebab, begitu kondisi pantai dan laut sudah bersih, tiba-tiba serangan limbah hitam datang.

Akibatnya, Lizawali harus bekerja extra, untuk membersihkan limbah ini. “Kami paham limbah ini termasuk B3, makanya pekerjaanya harus ekstra hati-hati,” ujarnya.

Ia berharap, limbah hitam ini tidak datang lagi. Sehingga, tidak mengganggu kondisi pariwisata di Nongsa Resort.

Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kepri menyelidiki tumpahan limbah hitam ini. Dari pemeriksaan awal, ada beberapa dugaan.

Baca Juga: Kewajiban Developer Memasukan Sambungan Air ke Perumahan

Dugaan pertama, limbah itu akibat kebakaran kapal di Perairan Malaysia, Kapal MT Pablo. Namun, dugaan ini masih didalami pihak aparat di Batam.

Berdasarkan hasil satelit print tanggal 30 April 2023 ada tiga lokasi tumpahan minyak di OPL (out port limit) timur, dengan luasan estimasi tumpah 13,70 kilometer. Diperkirakan kejadian cemaran di garis pantai batu besar punya hubungan dengan tumpahan yang terjadi di OPL timur.

Lalu, ada temuan juga limbah B3 di alur keluar masuk kapal di daerah labuh jangkar Batu Ampar dan Tanjung Uncang. “Kami masih berkoordinasi dahulu, atas dugaan-dugaan ini,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri, Kombes Nasriadi.

Ia mengatakan, masih berkoordinasi dengan berbagai pihak dan mencari fakta-fakta lain soal limbah ini.

Baca Juga: Kunjungan Wisman ke Batam Naik hingga 32,45 Persen, Ini Asal Negara Paling Banyak

Namun, jika bersandar dengan data dari BMKG Stamet Hang Nadim pada 30 April itu, gelombang di perairan Batam termasuk kategori rendah. Arus laut bergerak dari barat ke utara dengan kecepatan 5 hingga 45 centimeter per detiknya. Sementara, arah angin dari barat laut ke timur laut, dengan kecepatan 5 sampai 20 knot.

Lalu, di 1 Mei arus permukaan laut bergerak dari barat menuju ke utara, dengan kecepatan 5 sampai 60 centimeter per detiknya. Sedangkan, angin berhembus dari utara ke timur, dengan kecepatan 5 sampai 20 knot. (*)

 

Reporter: FISKA JUANDA

Update