Minggu, 18 Januari 2026

Percaya atau Tidak, Harga Santan Melonjak di Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Salah satu penjual santan di sebuah pasar di Kota Batam.
Foto: Cecep Mulyana / Batam Pos

batampos – Percaya atau tidak, harga santan di Batam melonjak. Santan, iya, santan. Bukan harga cabai atau sayur.

Harga santan di Batam mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Dari harga normal sekitar Rp22 ribu per kilogram, kini santan dijual hingga Rp40 ribu per kilogram. Kenaikan ini dikeluhkan masyarakat, terutama pemilik usaha kuliner yang bergantung pada santan sebagai bahan utama.

Kelangkaan Kelapa Picu Kenaikan Harga

Salah satu penyebab utama kenaikan harga santan adalah kelangkaan kelapa di pasaran. Jika sebelumnya kelapa dijual per biji, kini sistem pembelian berubah menjadi per kilogram, yang menyebabkan harga melonjak. Selain itu, banyak kelapa yang diekspor ke Malaysia dan Singapura karena harga jual yang lebih tinggi dibandingkan pasar lokal, sehingga stok untuk kebutuhan dalam negeri berkurang.

Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam, Mardanis, Batam tidak memiliki produksi kelapa sendiri dan sangat bergantung pada pasokan dari daerah lain seperti Tanjung Batu, Tembilahan, dan Tanjung Pinang.

“Sebagian besar kelapa di Batam dikirim dari luar daerah, sementara harga angkutannya juga naik. Hal ini berdampak langsung pada harga kelapa dan akhirnya harga santan di pasaran,” jelasnya.

 

Dampak bagi Pedagang dan Konsumen

Pedagang santan di pasar tradisional mengakui bahwa kenaikan harga ini sudah terjadi sejak Desember lalu dan semakin tinggi menjelang Ramadan.

Alwi, seorang pedagang santan di Pasar Sagulung, mengaku kesulitan mendapatkan stok santan murni.

“Kalau pun ada, harganya mahal sekali. Pelanggan, terutama pemilik rumah makan, banyak yang mengeluh,” katanya.

Hendro, pemilik rumah makan di Batam, juga merasakan dampaknya. Ia mengaku tidak bisa mengurangi penggunaan santan dalam resep masakannya karena pelanggan menyukai cita rasa yang sudah ada.

“Santan ini bahan utama di beberapa menu saya. Tidak mungkin dikurangi karena bisa mengubah rasa makanan,” ujarnya.

Sebagai solusi, Hendro terpaksa mengurangi porsi lauk agar tetap bisa menutupi biaya produksi yang semakin membengkak.

Tidak hanya pedagang, ibu rumah tangga pun mengeluhkan kondisi ini. Yanti, warga Batuaji, mengatakan bahwa ia kini kesulitan mendapatkan santan murni dengan harga terjangkau.

“Santan kemasan memang tersedia, tapi harganya lebih mahal dan rasanya tidak seotentik santan segar,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat segera mengatasi masalah ini agar harga santan kembali stabil.

 

Langkah Pemerintah untuk Mengatasi Kenaikan Harga

Menanggapi kondisi ini, Pemerintah Kota Batam berencana menggelar operasi pasar guna menstabilkan harga santan. Langkah ini dinilai penting mengingat sebentar lagi memasuki bulan Ramadan, di mana permintaan akan santan biasanya meningkat.

“Kami akan segera melakukan operasi pasar karena harga bahan pokok seperti santan pasti akan lebih tinggi menjelang Ramadan,” kata Mardanis.

Selain itu, pemerintah juga akan berkoordinasi dengan eksportir dan distributor kelapa untuk memastikan pasokan dalam negeri tidak terganggu oleh ekspor berlebihan.

“Kami akan mengundang eksportir kelapa dan pihak terkait untuk berdiskusi mengenai pembatasan ekspor, agar kebutuhan lokal tetap terpenuhi,” tambahnya.

 

Harapan Masyarakat

Pedagang dan konsumen berharap ada solusi jangka panjang untuk menstabilkan harga santan. Beberapa pedagang menyarankan adanya regulasi pembatasan ekspor kelapa agar stok lokal tetap terjaga.

“Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, kami yang jualan makanan bisa rugi besar. Harus ada kebijakan agar harga kelapa dan santan lebih stabil,” ujar Hendro.

Dengan harga santan yang masih tinggi dan pasokan yang terbatas, masyarakat Batam kini harus beradaptasi dengan kondisi ini. Beberapa orang memilih mengurangi penggunaan santan dalam masakan mereka, sementara yang lain terpaksa mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan bahan makanan yang menjadi bagian penting dari berbagai hidangan khas Indonesia.

Batam memperoleh bahan kebutuhan pangan dari berbagai daerah, baik dari dalam negeri maupun impor dari luar negeri. Batam bukan daerah agraris, pasokan bahan pangan sangat bergantung pada distribusi dari daerah lain. Batam mendapatkan bahan pangan dari beberapa daerah di Indonesia, terutama dari wilayah sekitar yang memiliki produksi pertanian dan peternakan lebih besar. (*)

#Santan

Update