Sabtu, 31 Januari 2026

Harga Santan Tembus Rp55 Ribu per Kg, Pedagang dan Konsumen Tertekan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Pedagang santan di pasar Mustapa, Batamcentre saat melayani pembeli. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos – Harga santan murni di Batam terus mengalami kenaikan menjelang Lebaran tahun ini. Jika sebelumnya masih berkisar Rp38 ribu per kilogram, kini harganya telah mencapai Rp55 ribu per kilogram di beberapa pasar tradisional.

Epi, salah seorang pedagang santan di Pasar Victoria, Sekupang, mengungkapkan bahwa kenaikan ini disebabkan oleh sulitnya mendapatkan kelapa. Menurutnya, harga kelapa terus naik sehingga berdampak pada harga santan murni di pasaran.

“Kalau kita jual di bawah harga sekarang, sudah pasti rugi. Ini untuk santan murni, kalau santan campur bisa lebih murah,” ujar Epi, Selasa (18/3).

Hal serupa diungkapkan seorang pedagang santan di Pasar Tiban Koperasi. Ia menyebutkan bahwa harga santan murni kini dijual antara Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram.

Baca Juga: Harga Kelapa Muda Melonjak, Pedagang Kewalahan

“Khusus santan murni memang tinggi. Tapi Kalau campur, harganya masih bisa Rp30 ribu per kilogram,” katanya.

Kenaikan harga santan ini paling berdampak pada masyarakat dan pedagang makanan, khususnya yang menjual masakan berbahan santan seperti gulai dan rendang.

Rum, seorang pedagang nasi di Sekupang, mengaku kini harus mengurangi takaran santan dalam masakannya karena harga yang semakin tinggi.

“Biasanya beli sekilo, sekarang cuma setengah kilo, tapi porsinya tetap sama,” ujarnya.

Ia juga mengatakan beberapa menu berbahan santan mulai dikurangi karena harga yang tak terjangkau. “Kalau kita naikkan harga jual, pelanggan bisa kabur. Jadi sementara, ya harus pintar-pintar menyiasatinya,” tambahnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Batam, Mardanis, menjelaskan bahwa lonjakan harga santan disebabkan oleh terbatasnya pasokan kelapa di Batam.

“Batam tidak memiliki produksi kelapa sendiri. Pasokan kelapa didatangkan dari luar, seperti Tanjungbatu, Tembilahan, dan Tanjungpinang. Namun, ketersediaan untuk pasar lokal semakin menipis,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa salah satu penyebab utama kelangkaan ini adalah tingginya ekspor kelapa ke Malaysia dan Singapura.

“Kelapa yang seharusnya masuk ke Batam lebih banyak diekspor ke luar negeri. Akibatnya, stok di pasar lokal semakin terbatas dan harga melonjak,” ujarnya.

Sebagai langkah konkret, Pemko Batam berencana menggelar rapat koordinasi dengan eksportir kelapa dan pihak terkait.

“Kami akan mengundang eksportir dan pihak karantina untuk memastikan agar ekspor tidak terlalu longgar, sehingga kebutuhan lokal bisa lebih dulu terpenuhi,” tegas Mardanis. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update