
batampos – BP Batam terus berupaya menyelesaikan persoalan distribusi air bersih yang masih belum merata di sejumlah wilayah. Saat ini, terdapat 18 stress area atau kawasan yang belum terlayani air bersih secara normal, di mana air hanya mengalir pada dini hari hingga subuh.
Kondisi ini menjadi perhatian serius karena penyediaan air bersih termasuk dalam lima program prioritas Wali Kota Batam/Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, bersama Wakil Wali Kota/Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra di triwulan kedua masa jabatan mereka.
Masyarakat pun berharap pasokan air di kawasan-kawasan tersebut bisa segera lebih kontinu, tidak hanya mengalir di luar jam aktivitas harian.
“Kami ingin air mengalir normal. Jangan sampai seperti yang sudah-sudah,” kata Wira, warga Tanjungsengkuang.
Ia mengaku, di wilayah tempat tinggalnya itu sering kali air mengalir tak lancar. Bahkan tak menutup kemungkinan suplai air terhenti.
“Air mengalir kadang cuma subuh aja. Di jam-jam normal aliran tak mengalir, kalau ngalir pun cuma dikit aja. Jadi kami (warga) minta pemerintah segera berbenah, bila perlu kembalikan ke pengelola yang sebelumnya,” ujar dia.
Sementara, Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menyampaikan bahwa pihaknya telah mulai mengerjakan sejumlah proyek teknis untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satunya adalah proyek pemasangan krossing pipa di Kepayang dan interkoneksi pipa di kawasan Sei Harapan.
Baca Juga: Air Mati Sejak Pagi, Warga Legenda Menjerit
“Dengan proyek tersebut, beberapa wilayah kini sudah mulai bisa dialiri air, meskipun belum 24 jam penuh. Wilayah itu antara lain Kamp Ponjen, Kamp Bukit, Tiban Riau Bertuah, dan Patam,” katanya.
Meski begitu, distribusi air di kawasan tersebut masih dalam tahap pemantauan. Hal ini disebabkan oleh kontur wilayah yang cukup tinggi di beberapa titik, sehingga tekanan air belum mampu menjangkau seluruh area secara optimal.
“Nantinya, kami akan memasang booster atau pompa tambahan agar air bisa naik ke wilayah yang lebih tinggi dan sulit dijangkau,” katanya.
Selain itu, BP Batam juga berencana melakukan pemasangan pipa krossing tambahan di wilayah lainnya. Langkah ini akan didukung dengan pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) baru di kawasan Ladi dengan kapasitas 50 liter per detik.
Baca Juga: Sudah 3 Hari Air Tak Ngalir ke Daerah Tiban, Fiska: Saya Mandi Pakai Air Galon
“Pembangunan IPA Ladi ini diharapkan dapat menyelesaikan persoalan stress area di wilayah barat Batam yang selama ini cukup terdampak,” ujar Tuty.
Di sisi lain, BP Batam juga tengah meninjau kembali skema kerja sama dengan Moya selaku operator pengelola air. Saat ini skema yang berjalan adalah Operation & Maintenance (OM), namun pihaknya sedang berdiskusi dengan PT Moya pusat untuk evaluasi menyeluruh.
“Evaluasi ini akan memakan waktu cukup panjang, bisa lebih dari enam bulan. Tapi ini bagian dari upaya kami untuk mendapatkan skema terbaik bagi pelayanan air bersih di Batam,” kata dia.
Selama dua minggu pertama dirinya menjabat, sudah banyak laporan kebocoran pipa yang diterima dan langsung ditindaklanjuti. “Kami bergerak cepat memperbaiki kebocoran tergantung pada tingkat kerusakannya,” tambahnya.
BP Batam menegaskan komitmennya dalam penyediaan air bersih yang merata bagi seluruh masyarakat Batam. Tuty berharap, dengan berbagai langkah yang sedang dan akan dilakukan, pelayanan air bersih bisa semakin membaik ke depannya. (*)
Reporter: Arjuna



