Senin, 19 Januari 2026

BI Kepri Bahas Tantangan dan Peluang Investasi dalam Diseminasi Laporan Perekonomian

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau tajaan BI Kepri, Selasa (22/4). (F.Arjuna)

batampos – Bank Indonesia perwakilan Kepri menggelar kegiatan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau dengan mengangkat tema “Navigating Investment Opportunities and Challenges in Riau Islands”. Acara berlangsung di Ruang Raja Ali Fisabilillah, Gedung BI Kepri, Selasa (22/4).

Kegiatan tersebut menjadi ajang strategis untuk membahas kondisi terkini perekonomian Kepri, serta merumuskan langkah bersama dalam mengoptimalkan potensi investasi. Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, menyebut perekonomian daerah terus menunjukkan geliat positif, bahkan melampaui rata-rata pertumbuhan regional.

“Pada triwulan IV 2024, ekonomi Kepri tumbuh sebesar 5,14 persen (yoy), lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan wilayah Sumatera yang berada di angka 4,60 persen,” katanya.

Ia menyebut sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertambangan sebagai motor utama pertumbuhan. Batam, sebagai pusat industri utama di Kepri, memberikan kontribusi signifikan terhadap laju pertumbuhan tersebut. Peran Batam dinilai sangat strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah dan mempertahankannya di atas rata-rata nasional.

Baca Juga: Batam Jajaki Kerja Sama Baru dengan SECO Swiss Lewat IDSUN Fase 2

Kinerja ekspor turut memberikan andil besar dalam mengakselerasi ekonomi. Net ekspor meningkat seiring dengan perbaikan aktivitas global, meskipun secara umum pertumbuhan ekonomi dunia masih menunjukkan variasi yang cukup tinggi.

Sektor jasa juga mulai menggeliat, meski dinilai masih membutuhkan dorongan tambahan agar dapat memberikan kontribusi yang lebih optimal terhadap perekonomian daerah. BI Kepri mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat layanan dan daya saing sektor ini.

“Batam dekat dengan Singapura dan Malaysia. Ini peluang besar yang harus kita manfaatkan, terutama untuk sektor jasa yang bisa berkembang pesat dengan dukungan infrastruktur dan inovasi,” kata dia.

Meski laju pertumbuhan tergolong positif, lanjut Rony, pihaknya mencatat adanya perlambatan dalam realisasi pendapatan dan belanja pemerintah daerah Kepri pada akhir 2024. Penurunan terjadi terutama pada pos pendapatan transfer dan belanja modal, dipengaruhi oleh faktor efisiensi.

Dari sisi inflasi, Kepri mencatat angka sebesar 2,09 persen (yoy) pada triwulan IV 2024. Angka ini menurun dari triwulan sebelumnya yang sebesar 2,53 persen, sekaligus menempatkan Kepri dalam rentang target nasional sebesar 2,5±1 persen.

Penurunan inflasi dipicu oleh turunnya harga pada kelompok peralatan rumah tangga, pendidikan, serta jasa keuangan dan komunikasi. Hal ini dinilai berdampak positif terhadap daya beli dan stabilitas harga barang kebutuhan masyarakat.

Sektor keuangan menunjukkan tren positif melalui peningkatan kredit, terutama pada sektor korporasi dan UMKM. Risiko kredit secara umum terkendali, meskipun terdapat sedikit peningkatan pada kredit rumah tangga.

Baca Juga: Hijaukan Lingkungan, MTsN 1 Batam Tanam Ratusan Pohon Matoa di Hari Bumi

Transaksi pembayaran, baik tunai maupun non-tunai, juga meningkat. Penggunaan QRIS semakin meluas, mencerminkan pergeseran preferensi masyarakat ke arah digitalisasi sistem pembayaran yang lebih efisien dan inklusif.

Kesejahteraan masyarakat turut menunjukkan perbaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kepri mengalami peningkatan, sementara Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurun. Nilai Tukar Petani (NTP) pun naik, menandakan adanya peningkatan daya beli di sektor pertanian.

BI Kepri optimistis, memasuki tahun 2025, perekonomian Kepri akan terus menguat. Konsumsi rumah tangga dan investasi diproyeksikan menjadi penopang utama pertumbuhan, diiringi dengan inflasi yang tetap terkendali.

Sinergi antar-lembaga melalui TPID dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) akan terus diperkuat sebagai upaya menjaga stabilitas harga. Langkah ini diharapkan mampu mendorong keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.

“Yang paling penting adalah menjaga stabilitas harga dan memperluas basis industri serta konsumsi. Kepri memiliki potensi yang sangat kuat untuk menjadi kawasan ekonomi yang tangguh dan inklusif,” ujar Rony. (*)

 

 

Reporter: Arjuna

 

Update