
f. Putut Ariyo
batampos – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Nagoya, Batam—dikenal sebagai salah satu pusat bisnis dan wisata belanja—terselip sebuah toko kecil yang menjadi surga tersembunyi bagi para pencinta buku. Namanya ToBuKas, singkatan dari “Toko Buku Bekas”. Letaknya tidak di tepi jalan besar atau mal yang ramai, tapi di balik sebuah gang sempit di samping hotel. Tepatnya di belakang warung Soto Lamongan yang cukup terkenal di kawasan itu.
Berdiri sejak tahun 1996, ToBuKas dulunya merupakan tempat persewaan komik. Kala itu, komik-komik Jepang seperti Doraemon, Dragon Ball, atau Kungfu Boy menjadi primadona. Namun seiring berjalannya waktu dan berubahnya kebiasaan membaca masyarakat, ToBuKas ikut menyesuaikan diri. Dari hanya menyewakan, kini menjadi tempat jual-beli buku bekas dari berbagai genre: mulai dari novel, biografi, buku pelajaran, hingga koleksi langka yang sulit ditemukan di toko buku besar.
Adalah Junarton, pria asal Bandung yang kini menjadi pengelola toko ini. Pria yang akrab disapa Bang Jun ini datang ke Batam pada tahun 2003. “Saya ambil alih dari bos,” ujarnya sambil tertawa kecil, mengenang awal mula ia menjalankan toko ini. Sejak saat itu, Bang Jun setia menjaga dan merawat ToBuKas—bukan hanya sebagai tempat usaha, tapi juga sebagai ruang bertemu para pencinta literasi.
Pandemi Covid-19 sempat mengubah banyak hal, termasuk cara orang mencari hiburan dan pengetahuan. Bagi Bang Jun, justru di masa sulit itulah ToBuKas mengalami dinamika yang menarik. “Ada pergerakan. Orang mulai kembali menyentuh buku fisik. Jenuh juga terus-menerus di depan layar,” ujarnya. Menurutnya, buku cetak memberi pengalaman yang berbeda—lebih intim, lebih tenang.
Bang Jun optimistis, buku fisik tidak akan pernah benar-benar ditinggalkan. “Di Eropa dan Amerika sudah mulai gerakan kembali ke buku,” katanya. Ia percaya, Indonesia juga akan menyusul tren ini, perlahan tapi pasti. Dan ToBuKas siap menjadi bagian dari kebangkitan itu.
Toko mungil berukuran sekitar 4 x 3 meter ini memang sederhana, tapi jangan salah—isinya padat. Rak-rak kayu penuh buku. Kadang terlihat tumpukan buku yang baru datang menunggu disortir. Setiap buku punya cerita, pernah dimiliki, pernah dibaca, dan kini menunggu pemilik baru.
Menariknya, Anda juga bisa menjual buku Anda di sini. Bila punya koleksi yang sudah tak dibaca lagi, atau jika Anda hendak pindah rumah ke luar kota, Bang Jun dengan senang hati akan menerima tawaran buku Anda. Tentu saja, soal harga bisa dibicarakan langsung dengan beliau.
ToBuKas bukan sekadar tempat jual beli. Ia adalah ruang kecil yang menyimpan semangat literasi, kenangan masa lalu, dan harapan akan masa depan di mana buku tetap hidup, di tangan-tangan pembacanya. (*)
Reporter: Putut Ariyo



