Kamis, 29 Januari 2026

Kesan Fary Francis, Utusan Presiden Prabowo di Pelantikan Paus Leo XIV di Vatikan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Fary Francis

batampos — Dalam suasana sakral yang penuh sukacita, Deputi IV BP Batam bidang Pengusahaan dan Investasi, Fary Francis, menghadiri pelantikan Paus Leo XIV di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Minggu (18/5/2025). Ia hadir bersama Muhaimin Iskandar, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, dan Budi Arie Setiadi, Menteri Koperasi dan UKM. Ketiganya diutus secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai perwakilan resmi dari Indonesia.

Upacara agung ini tak hanya menjadi peristiwa keagamaan, tetapi juga momen penuh makna tentang kekuasaan, kerendahan hati, dan kesinambungan Gereja Katolik. Pelantikan ini menandai secara resmi dimulainya masa kepemimpinan Paus Leo XIV sebagai Uskup Roma dan Pemimpin Gereja Katolik sedunia.

Kehadiran Fary mencerminkan semangat inklusif pemerintahan Presiden Prabowo yang mengedepankan representasi dari seluruh lapisan masyarakat, tanpa membedakan latar belakang suku maupun agama.

Seusai acara, Fary membagikan dua kesan mendalam dari prosesi pelantikan yang menurutnya patut diteladani:

1. Simbolisme Sakral yang Menyentuh

Pelantikan dipenuhi simbol-simbol suci. Salah satu yang paling menyentuh, menurut Fary, adalah pallium, selendang wol putih bertanda lima salib merah yang dikenakan di bahu Paus sebagai lambang misi pastoral—menggembalakan umat dengan kasih dan pengorbanan. Pallium ini dirajut dari wol dua ekor anak domba yang telah diberkati, melambangkan pengorbanan Kristus dan tanggung jawab spiritual seorang pemimpin.

Simbol penting lainnya adalah cincin nelayan (fisherman’s ring), terbuat dari emas murni dengan ukiran perahu Santo Petrus dan nama Paus yang baru. Cincin ini melambangkan otoritas apostolik Paus sebagai penerus Santo Petrus, pemimpin pertama Gereja.

Rangkaian prosesi berlangsung khidmat, dimulai dari doa di makam Santo Petrus, penghormatan para kardinal di Altar Pengakuan, hingga penerimaan pallium dan cincin oleh Paus dari tangan kardinal protodiakon.

“Puncaknya adalah saat Paus Leo XIV memberkati Injil ke empat penjuru dunia dan menerima penghormatan dari perwakilan lima benua sebagai lambang kesatuan Gereja universal. Upacara ditutup dengan berkat Urbi et Orbi (‘kepada kota dan dunia’),” ujar Fary.

2. Pesan Damai dari Takhta Suci

Dalam sambutan perdananya, Paus Leo XIV menyampaikan pesan damai yang menyentuh:
“Semoga damai menyertai Anda, saudara-saudara terkasih.”

Ucapan ini, kata Fary, bukan sekadar salam, melainkan seruan universal agar damai Kristus yang bangkit dapat menyentuh hati setiap pribadi, keluarga, bangsa, dan seluruh umat manusia. Damai yang bersumber dari kasih Tuhan yang tak bersyarat menjadi fondasi kuat bagi masa depan yang lebih bersaudara.

“Paus Leo XIV juga menekankan pentingnya semangat dialog, keterbukaan, dan misi kasih. Ia mengajak umat manusia menjadi Gereja yang misioner—membangun jembatan, bukan tembok, dan hadir dengan tangan terbuka bagi semua yang membutuhkan,” ucap Fary Francis, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Komisi V DPR RI (2014–2019) dan Komisaris Utama PT ASABRI.

Fary menambahkan, sebagai Paus ke-267 dan yang pertama berasal dari Amerika Serikat, Paus Leo XIV membawa pengalaman panjang sebagai misionaris di Peru—di tengah komunitas kecil dan tertindas. Kepeduliannya pada keadilan sosial dan solidaritas lintas batas menjadikannya harapan baru bagi dunia untuk merajut perdamaian dalam ragam warna-warni kemanusiaan universal.

“Proficiat Paus Leo XIV. Selamat memimpin dan melayani dunia. Salam sukacita dari Indonesia. In Ilu Uno, Unum — Dalam Dia yang Satu, kita menjadi satu,” tutup Fary.

(*)

Update