
batampos – Sekretaris Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Batam, Erry Syahrial menilai sekolah berbasis asrama di Kota Batam rentan terhadap kasus bullying dan penganiayaan.
“Memang rentan, dan ada beberapa kasus terjadi di Batam. Karena dalam setiap hari, aktivitas anak ini akan lebih sering bertemu,” ujarnya.
Seperti kasus di MTSN 1 Batam. Erry menjelaskan kasus penganiayaan yang dialami Siswa Kelas 1 inisial VPA berawal dari bullying.
“Awalnya itu bullying, kemudian pelaku tidak terima dan menganiaya korban,” katanya.
Baca Juga: Batam Sambut Putusan MK soal Pendidikan Gratis di Sekolah Swasta
Menurut Erry, dengan rentannya kasus ini, pihak sekolah harus memperketat pengawasan. Ia meminta guru-guru lebih aktif untuk mengawasi kegiatan anak di dalam asrama.
“Peran guru-guru ini penting. Apa saja kegiatan anak itu harus diawasi,” ungkapnya.
Dalam kasus penganiayaan di MTSN 1 Batam ini, Erry berharap dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Sebab, hal ini menyangkut masa depan anak-anak.
“Tapi kalau keluarga korban tetap bersikeras menempuh jalur hukum, biar pihak kepolisian nanti yang menyelidiki,” tutupnya.
Baca Juga: Kotori Jalan, Dishub Batam akan Koordinasi dengan Satpol PP untuk Tindak Truk Tanah
Diberitakan sebelumnya, Siswa Kelas 1 MTSN 1 Batam, VPA dilaporkan menjadi korban penganiayaan oleh murid senior sekolahnya. Bahkan, remaja 12 tahun ini mengaku dikeroyok hingga mengalami patah tulang di bagian bahu.
Informasi yang didapatkan, penganiayaan tersebut terjadi saat VPA menempati asrama sekolah. Pengeroyokan disebut terjadi pada akhir April lalu. (*)
Reporter: Yofi Yuhendri



