Minggu, 11 Januari 2026

Terlalu Sering Terjadi Kecelakaan, Warga Desak Penutupan Permanen U-Turn Tiban Kampung

Desain U-Turn Sudah Melalui Kajian Keselamatan dan Kemacetan, Kesadaran Masyarakat Masih Rendah

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Jalan Gajah Mada Tiban Kampung.

batampos – Warga Tiban Kampung, Kecamatan Sekupang, meminta pemerintah segera menutup permanen U-turn atau putar balik di depan Institut Teknologi Batam (Iteba). Titik ini dinilai sangat membahayakan karena kerap digunakan pengendara motor untuk melawan arah, yang telah menyebabkan banyak kecelakaan.

Yudi, salah satu warga yang tinggal di sekitar lokasi, menyebutkan bahwa pelanggaran lalu lintas di kawasan itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Tak sedikit pengendara yang nekat memotong jalan demi menghindari putaran resmi yang lebih jauh.

“Setiap hari pasti ada yang lawan arah. Sudah beberapa kali juga terjadi kecelakaan karena mereka potong dari arah berlawanan. Harusnya U-turn ini ditutup saja permanen. Sangat berbahaya,” ujar Yudi, Selasa (17/6).

Ia menambahkan, pengendara yang melawan arah biasanya terburu-buru dan tidak mempertimbangkan keselamatan pengguna jalan lain. “Sering yang ngebut tiba-tiba potong dari depan, bikin kaget dan bahaya banget,” tambahnya.

Senada dengan itu, Fitri, warga lainnya, juga menyatakan keresahannya. Ia mengaku merasa tidak nyaman setiap kali melintasi jalan tersebut.

“Kalau lewat situ rasanya deg-degan terus. Takut tiba-tiba ada yang muncul dari arah berlawanan. Udah sering lihat motor jatuh karena kaget,” tuturnya.

Warga lainnya, Budi, bahkan menyebut U-turn itu sebagai titik maut. Menurutnya, kecelakaan di lokasi itu seharusnya sudah cukup jadi alasan bagi pihak berwenang untuk segera bertindak.

“Namanya jalan umum, harus aman. Kalau dibiarkan terus, korban akan terus bertambah. Jangan nunggu ada yang meninggal dulu baru ditindak,” ujarnya dengan nada kesal.

Warga berharap pihak Dinas Perhubungan Kota Batam atau kepolisian setempat segera meninjau kembali keberadaan U-turn tersebut. Penutupan permanen dinilai sebagai solusi paling efektif untuk menghentikan pelanggaran dan mencegah jatuhnya korban lebih banyak.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam, Salim, menegaskan bahwa seluruh kebijakan rekayasa lalu lintas di sejumlah titik, termasuk penutupan dan pengaturan putar balik (u-turn), telah melalui kajian mendalam. Langkah ini diambil demi meningkatkan keselamatan pengendara dan mengurangi kemacetan di wilayah-wilayah rawan kecelakaan.

“Dulu, titik rawan seperti di tanjakan Soutlink arah Sekupang sering terjadi kecelakaan, karena pengendara dari arah RS Sekupang memotong jalur ke arah jembatan. Itu sangat berbahaya, makanya kami tutup. Semua sudah melalui pertimbangan,” ujar Salim.

Salim mengungkapkan, selain faktor kecelakaan, lokasi-lokasi yang diputuskan untuk ditata ulang juga merupakan sumber kemacetan, apalagi di jam-jam sibuk. Desain jalur u-turn pun telah disesuaikan agar tidak membahayakan pengguna jalan lain.

Dishub Batam mengakui, beberapa titik u-turn yang sebelumnya sempat ditutup kini dibuka kembali karena banyaknya permintaan dari masyarakat, termasuk dari kalangan mahasiswa dan warga perumahan.

“Contohnya di daerah Tiban Ayu itu, ada dua perguruan tinggi dan perumahan padat penduduk. Kita pertimbangkan aksesibilitas mereka juga. Jadi kami desain ulang agar bisa u-turn dengan aman,” tambah Salim.

Namun, ia menegaskan bahwa kepatuhan masyarakat terhadap rambu dan marka jalan masih menjadi tantangan besar. Ia mengaku masih sering melihat pengendara melawan arah, termasuk dari SPBU yang langsung belok kanan meski dilarang.

“Masalahnya bukan desain jalan, tapi kesadaran pengendara. Kalau masyarakat patuh, lalu lintas akan jauh lebih aman,” pungkasnya. (*)

Reporter: Rengga Yuliandra

Update