
batampos – Pasokan gas bumi untuk Kota Batam mengalami penurunan drastis sejak 2024. Bahkan saat ini pasokan dari Sumatera berkurang lebih dari 50 persen. Demi menjaga suplai energi untuk pelanggan, terutama sektor industri dan pembangkit, PT Perusahaan Gas Negara (PGN) kini menambahkan pasokan dari Liquefied Natural Gas (LNG) yang harganya jauh lebih mahal dibanding gas pipa.
Hal itu disampaikan Wendi Purwanto, Area Head PGN Batam, menjawab isu kenaikan harga gas bagi industri di Batam.
“Harga gas bukan semata-mata naik. Tapi sumber pasokan sekarang berasal dari dua jenis: gas pipa dari Sumatera dan LNG domestik. Harga gas pipa sekitar USD 8–9 per MMBTU, sedangkan LNG jauh lebih mahal. Maka, harga gas di pelanggan jadi kombinasi dari dua sumber ini,” kata Wendi, kemarin.
Baca Juga: Penumpang Super Air Jet Tujuan Batam Meninggal Dalam Perjalanan
Menurutnya, sejak dua tahun lalu, sumur-sumur gas di Sumatera menunjukkan tanda-tanda penurunan produksi. Hingga kini, belum ada tambahan pasokan baru dari wilayah tersebut.
“PGN sebenarnya sudah membatasi distribusi ke pelanggan sejak 2023. Tapi kami masih berusaha menjaga pasokan dengan cara lain, salah satunya lewat LNG,” ungkapnya.
Wendi menegaskan, penentuan harga gas bukan wewenang PGN, melainkan keputusan pemerintah pusat. Dalam hal ini, Kementerian ESDM yang menetapkan harga dan alokasi, termasuk untuk program Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) senilai USD 6–7 per MMBTU.
“Industri yang ditetapkan sebagai penerima HGBT tetap mendapat harga lebih murah. Tapi yang tidak menerima, akan mendapat sisa alokasi yang cenderung lebih mahal,” tambahnya.
PGN sendiri tak punya kuasa dalam menentukan siapa yang dapat HGBT. Dimana ada 7 sektor yang mendapatkan gas sesuai HGBT, diantaranya PLN, Karet, Nikel dan beberapa lainnya.
“PLN termasuk penerima HGBT, tapi jumlahnya dibatasi. Saat ini, hanya sekitar 70–80 persen kebutuhan PLN yang dipenuhi dari gas pipa. Sisanya tetap pakai LNG,” jelas Wendi.
Baca Juga: Kepala BP Batam Sambut Kunjungan Duta Besar Australia, Harapkan Investasi Meningkat
Lalu, bagaimana dengan Singapura yang disebut tetap lancar menerima gas? Wendi membantah kabar itu. Ia menyebut, negara tetangga itu hanya menerima pasokan minimum kontrak sekitar 170-an MMBTU, separuh dari kebutuhan normal.
“Mereka juga dikurangi, karena pasokan dari Sumatera terbatas. Kalau Indonesia sampai mengurangi di bawah minimum, bisa kena denda, karena ini kontrak antar-pemerintah,” ujarnya.
Wendi juga mengungkapkan, PGN sebenarnya tidak punya alokasi LNG sendiri. Pihaknya menggunakan LNG spot yang tidak diekspor.
“Tapi karena ini bagian dari pendapatan APBN, harganya tetap harga ekspor. Gas itu dibawa ke Lampung, lalu didegasifikasi dan disalurkan ke Batam, Dumai, hingga Jawa Barat,” jelasnya.
Terkait gas dari Natuna, PGN juga tidak mendapatkan jatah. Menurut Wendi, sejak awal 2025, seluruh alokasi gas dari Natuna diserahkan penuh kepada PLN. Pemerintah yang menentukan bagaimana gas itu dibagi, baik untuk pembangkit maupun industri.
“PGN hanya menyalurkan sesuai arahan pemerintah,” ujarnya.
Baca Juga: Wali Kota Batam Resmikan Dapur Umum MBG untuk Enam Sekolah di Tanjunguncang
Meski begitu, PGN tak tinggal diam. Perusahaan pelat merah itu sedang menjajaki berbagai sumber baru, salah satunya dari wilayah Andaman. “Rencananya kami akan sambungkan jaringan pipa dari Medan ke Dumai. Tapi ini jangka panjang, paling cepat bisa terealisasi empat tahun lagi,” kata Wendi.
Ia menambahkan, PGN bersama asosiasi industri kini aktif berdiskusi dengan pemerintah agar gas industri bisa kembali terjangkau. “HGBT sebenarnya sangat baik untuk industri. Tapi karena gas milik negara, PGN hanya menjalankan. Kalau harganya murah, kami juga beli murah dan jual murah. Tapi kalau pasokan LNG mahal, otomatis jualnya mahal,” jelasnya.
Saat ini, rata-rata harga gas di industri naik dari USD 9 menjadi sekitar USD 15, atau meningkat 60–70 persen. Menurut Wendi, lonjakan ini tidak mendadak, karena sebelumnya PGN sudah berkali-kali mengurangi pasokan. “Kami berharap ada tambahan pasokan gas murah dari Sumatera, tapi sampai sekarang belum ada,” tutupnya. (*)
Reporter: Yashinta



