Senin, 26 Januari 2026

Harga Daging Beku Naik Tajam, Batam Tunggu Kebijakan Pusat

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Seorang ibu tengah memilih daging sapi beku yang ditawarkan di pasar Botania 2, Batamcentre. Foto. Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Harga daging sapi beku di Kota Batam meroket hingga mencapai Rp120 ribu per kilogram dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah Kota (Pemko) Batam pun langsung melakukan rapat koordinasi dengan sejumlah pihak terkait pada 15 Juli kemarin.

Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Batam, Wahyu Daryatin, menyebut lonjakan harga ini bukan hanya terjadi di Batam. Fenomena serupa juga ditemukan di berbagai daerah lain di Indonesia.

“Memang terjadi lonjakan harga ini bukan hanya di Batam. Semua daerah itu naik harga dagingnya, terutama daging sapi. Kalau daging ayam masih normal,” katanya, Rabu (16/7).

Selisih harga antara daging sapi segar dan beku sebenarnya cukup signifikan. Normalnya, daging sapi segar dijual sekitar Rp150 ribu per kilogram, sementara daging beku biasanya berada di kisaran Rp70 ribu hingga Rp85 ribu per kilogram.

Sementara itu, kebutuhan daging sapi di Batam, baik beku maupun segar, diperkirakan mencapai 100 ton per bulan. Jumlah ini mencerminkan permintaan yang cukup tinggi di tengah pasokan yang kian terbatas.

Kata Wahyu, harga daging sapi beku yang melambung tak lepas dari terbatasnya pasokan. “Ketersediaannya memang tidak banyak lagi karena asalnya impor. Impor yang masuk ke Batam selama ini dipegang BP Batam,” tambahnya.

Daging sapi beku yang masuk ke Batam mayoritas berasal dari Australia. Akan tetapi, tingginya harga dari negara asal menyebabkan harga akhir di pasar lokal juga melambung tinggi.

“Daging itu sampai di Batam sudah tinggi harganya. Makanya itulah salah satu penyebabnya,” ujar dia.

Untuk menanggulangi persoalan ini, Pemko Batam telah menggelar pertemuan dengan BP Batam, Bea Cukai, dan Balai Karantina. Salah satu pembahasan utamanya adalah kemungkinan mendatangkan daging beku dari negara lain seperti India dan Brazil.

“Daging dari India dan Brazil relatif lebih terjangkau. Tapi masalahnya, impornya itu masuknya dari Jakarta. Kalau lewat Jakarta, harga sampai Batam tetap tinggi karena biaya distribusi,” ujarnya.

Meski begitu, hingga saat ini belum ada kepastian terkait pembukaan jalur impor alternatif selain dari Australia. Pemerintah daerah juga belum mendapatkan sinyal kebijakan dari pemerintah pusat.

“Kebijakan itu masih di kementerian. Di daerah ini kita hanya bisa menunggu. Bulog pun masih menunggu arahan dari pusat terkait dengan impor daging ini,” ujarnya.

Disperindag Batam mengusulkan agar daging impor yang ada di Jakarta bisa disalurkan ke Batam dengan harga lebih terjangkau. Tetapi, hal ini bergantung pada keputusan pusat dan kesiapan distribusi antar wilayah.

“Langkah konkret dari kami adalah terus melakukan koordinasi. Kami juga akan bersurat ke kementerian untuk menyampaikan kondisi ini,” kata Wahyu. (*)

Reporter: Arjuna

Update