Minggu, 18 Januari 2026

Stok Daging Sapi Beku Menipis, Harga Meroket

Ternyata Sudah Sebulan Daging Beku Tak Masuk Batam

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kasubdit I Indag Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Ruslaeni

batampos – Harga daging sapi beku beberapa pekan terakhir meroket hingga Rp 130 ribu per kilogram. Ternyata, salah satu penyebab kenaikan harga daging sapi beku karena sudah satu bulan pasokan daging beku dari luar negeri tak masuk ke Batam.

Kondisi ini memicu penurunan stok di pasaran dan membuat harga daging beku mulai merangkak naik, tidak hanya di Batam tetapi juga di wilayah lain di Kepulauan Riau.

Kasubdit I Indag Ditreskrimsus Polda Kepri, AKBP Ruslaeni mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Disperindag dan Distributor terkait kenaikan harga daging sapi beku. Ternyata sejak sebulan terakhir tidak ada lagi pengiriman daging beku yang masuk ke Batam.

“Hasil koordinasi kami dengan para distributor, terakhir daging beku masuk ke Batam itu satu bulan lalu. Dan sampai saat ini belum ada pengiriman baru sampai hari ini,” ujarnya Rabu (16/7).

Menurut dia, Batam menjadi titik utama distribusi daging beku untuk wilayah Kepulauan Riau. Dengan terganggunya pasokan ke Batam, dampaknya langsung terasa ke seluruh daerah yang bergantung pada distribusi dari kota ini.

“Kondisi ini bukan hanya berdampak di Batam, tetapi juga menyebar ke kabupaten/kota lain di Kepri. Karena pintu masuk distribusi daging beku untuk wilayah ini hanya melalui Batam,” ujarnya.

Selain masalah keterlambatan pengiriman, lonjakan permintaan dari masyarakat turut mempercepat menipisnya stok. Dalam kondisi normal, kebutuhan pasar dapat diimbangi oleh pasokan dari distributor. Namun dalam sebulan terakhir, stok lama yang tersisa semakin berkurang.

“Kami sudah melakukan pengecekan langsung di lapangan. Hasilnya menunjukkan bahwa stok makin menipis dan harga di tingkat pengecer sudah mulai naik,” katanya.

Ia menambahkan, distribusi daging beku ke Batam biasanya dilakukan dengan penghitungan kuota berdasarkan permintaan pasar. Namun dengan belum masuknya pengiriman baru, distribusi ke pengecer menjadi terbatas.

“Distributor biasanya mengatur kuota untuk beberapa bulan ke depan, namun tanpa pengiriman baru, distribusi ke pasar jadi tersendat. Inilah yang menjadi penyebab utama kenaikan harga,” tegasnya.

Ditegaskan Ruslaeni, pihaknya terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan distributor untuk mengantisipasi potensi lonjakan harga yang lebih tinggi. Ia mengingatkan para pelaku usaha agar tidak memanfaatkan situasi ini untuk mengambil keuntungan berlebih.

“Kami imbau pedagang tetap menjual dengan wajar dan tidak menimbun barang. Kami akan ambil langkah tegas jika ada pelanggaran distribusi,” pungkasnya. (*)

Reporter: Yashinta

Update