
batampos– Kota Batam mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,15 persen pada Juli 2025. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan, dengan daging sapi tercatat sebagai penyumbang inflasi tertinggi pada bulan tersebut, yakni sebesar 0,04 persen terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK).
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, menyampaikan bahwa lonjakan harga daging sapi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan IHK dari 108,74 pada Juni 2025 menjadi 108,90 pada Juli 2025.
“Secara umum, perkembangan harga pada Juli menunjukkan adanya tekanan inflasi. Komoditas pangan seperti daging sapi menyumbang 0,04 persen dan menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi bulanan di Batam,” ujarnya, Senin (4/8).
Selain daging sapi, beberapa komoditas lainnya yang turut memberikan andil terhadap inflasi m-to-m, antara lain Bawang merah sebesar 0,03 persen, Cabai rawit sebesar 0,02 persen, Ikan tongkol/ambu-ambu sebesar 0,02 persen, Kangkung sebesar 0,02 persen, Wortel sebesar 0,02 persen, Telur ayam ras sebesar 0,02 persen dan Sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 0,01 persen.
Menurut Eko, pola konsumsi masyarakat yang tetap tinggi terhadap komoditas-komoditas tersebut, terutama saat terjadi sedikit gangguan pasokan, menjadi penyebab utama lonjakan harga.
BACA JUGA: Ekonomi Kepri Tumbuh Solid, BI Jaga Inflasi Tetap Terkendali
Meski demikian, inflasi pada Juli tidak terjadi secara merata. Beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga dan memberikan sumbangan deflasi, antara lain, santan segar, cabai merah, sawi hijau, daging ayam ras, dan bawang putih.
Penurunan harga pada komoditas-komoditas tersebut turut menahan laju inflasi agar tidak melonjak lebih tinggi.
Selain inflasi bulanan, BPS juga mencatat laju inflasi year on year (y-on-y) di Batam pada Juli 2025 mencapai 2,30 persen dengan IHK sebesar 108,90. Angka ini menunjukkan adanya kenaikan harga dari IHK sebelumnya sebesar 106,45 pada Juli 2024.
Eko menjelaskan bahwa inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga di hampir seluruh kelompok pengeluaran.
“Tercatat ada sepuluh kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan harga, sedangkan hanya satu kelompok yang mengalami penurunan,” sebut Eko.
Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan harga meliputi, makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,66 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 2,46 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,95 persen. Perlengkapan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,39 persen, kesehatan sebesar 1,00 persen.
Sementara itu transportasi sebesar 0,94 persen, Rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,84 persen, Pendidikan sebesar 0,90 persen, Penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,69 persen dan Perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,90 persen.
Sementara itu, satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan adalah kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, yang tercatat turun sebesar 0,07 persen. (*)
Reporter: Rengga



