Minggu, 18 Januari 2026

Jelang 17 Agustus, Semarak Merah Putih di Pemukiman Batuaji dan Sagulung Masih Sepi

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Bendera dan aksesoris merah putih mulai ramai dijajakan di pinggir jalan Batuaji dan Sagulung. Foto. Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, suasana semarak merah putih di pemukiman warga Batuaji dan Sagulung masih belum terasa. Pantauan di lapangan menunjukkan, baru satu dua rumah yang memasang bendera merah putih, sementara aksesoris perayaan juga nyaris tak terlihat di sebagian besar lingkungan.

Kondisi ini kontras dengan pemandangan di pinggiran jalan utama, di mana semarak bendera dan hiasan merah putih cukup mencolok. Deretan pedagang musiman menjajakan bendera berbagai ukuran dan ornamen kemerdekaan lainnya. Namun, para pedagang mengaku penjualan tahun ini cenderung sepi dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Paling satu atau dua bendera yang dibeli, itu pun yang kecil. Sepertinya hanya untuk formalitas saja. Biasanya di awal Agustus sudah ramai, tapi tahun ini agak beda, seperti kurang peminat,” ujar salah satu pedagang bendera di kawasan Batuaji, Sabtu (9/8).

Fenomena ini terjadi di tengah maraknya pemasangan bendera bermotif One Piece yang sempat viral di media sosial. Meski demikian, di pemukiman, warna merah putih asli justru belum banyak berkibar. Hal ini memunculkan pertanyaan terkait menurunnya antusiasme warga untuk memeriahkan momen kemerdekaan.

Beberapa warga yang ditemui mengaku alasan mereka bukan karena kurangnya rasa cinta terhadap tanah air. Menurut mereka, faktor kebijakan pemerintah yang dinilai memberatkan menjadi salah satu penyebab rendahnya semangat untuk ikut memeriahkan perayaan.

“Saya tetap cinta Indonesia, tapi kalau bicara antusias, jujur saja berkurang. Banyak kebijakan yang menurut saya terlalu membebani rakyat. Mulai dari kesempatan kerja yang sempit, sampai urusan pajak. Pemerintah harus lebih peduli soal kesejahteraan rakyatnya,” kata Arman, warga Sagulung.

Warga lainnya juga menyampaikan harapan agar pemerintah tidak hanya mengimbau soal pemasangan bendera, tetapi juga memberikan bukti nyata perhatian pada kebutuhan masyarakat. Menurut mereka, perayaan kemerdekaan akan lebih bermakna jika rakyat benar-benar merasakan kesejahteraan yang dijanjikan.

Sementara itu, beberapa pedagang menilai menurunnya minat beli bendera dan aksesoris kemerdekaan berkaitan dengan kondisi ekonomi masyarakat. “Banyak yang bilang uangnya pas-pasan. Jadi ya beli bendera ukuran kecil saja, asal ada,” kata seorang pedagang di kawasan Sagulung.

Meski demikian, di ruas-ruas jalan besar, warna merah putih tetap mendominasi berkat para pedagang yang menjajakan dagangan mereka. Namun, semarak tersebut belum merembet ke dalam pemukiman yang hingga kini masih terlihat sepi dari hiasan kemerdekaan.

Dengan waktu yang tersisa hingga puncak peringatan 17 Agustus, diharapkan partisipasi masyarakat bisa meningkat. Pemerintah daerah pun diminta untuk tidak hanya mendorong aspek simbolik, tetapi juga membangun antusiasme warga melalui kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan rakyat. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update