
batampos – Industri galangan kapal di Batam kembali menjadi sorotan tajam setelah serangkaian kecelakaan kerja dalam beberapa bulan terakhir merenggut nyawa pekerja. Mulai dari kebakaran besar di PT ASL Shipyard, insiden pekerja muda di PT Sumber Marine Shipyard, hingga kasus terbaru yang menewaskan seorang supervisor di PT Lestari Ocean Indonesia (LOI).
Kasus pertama terjadi akhir Juni 2025, ketika kebakaran hebat melanda PT ASL Shipyard di Tanjunguncang. Api yang menjalar cepat di area perbaikan kapal membuat banyak pekerja terjebak. Lima orang tewas, puluhan lainnya luka bakar. Tragedi ini tercatat sebagai salah satu kecelakaan kerja terbesar dalam sejarah galangan kapal Batam. Hingga kini, proses hukum untuk mengungkap penyebab kebakaran masih berjalan.
Belum reda duka dari ASL, insiden kembali terjadi pada Kamis (7/8/2025). Seorang pekerja subcon PT Sinar Lautan Agung, M. Raudhul Ma’ari (21), tewas tersengat listrik saat menghaluskan tangki kapal menggunakan mesin gerinda di PT Sumber Marine Shipyard. Pemuda asal Pariaman yang baru lulus sekolah itu diduga ditempatkan sendirian di ruang tangki kapal—sebuah prosedur yang dinilai tidak sesuai standar.
“Kalau sesuai aturan, pekerja baru tidak boleh kerja sendirian di tangki. Harusnya minimal dua atau tiga orang berpengalaman,” ungkap seorang rekan kerja yang enggan disebut namanya.
Status Raudhul sebagai helper juga menimbulkan pertanyaan. Posisi tersebut seharusnya hanya membantu pekerjaan inti, bukan mengoperasikan alat berisiko tinggi. Dugaan pelanggaran standar keselamatan kerja (K3) pun menguat, mengingat pekerjaan dalam ruang terbatas (confined space) membutuhkan pengawasan ketat.
Kapolresta Barelang Kombes Pol Zaenal Arifin menegaskan penyelidikan masih berlangsung. Polisi telah memeriksa saksi dari pekerja hingga pihak manajemen, serta mendalami penerapan SOP keselamatan di lapangan. “Saksi masih bertambah. Belum ada tersangka, kami dalami apakah ada unsur pidana, kelalaian, atau murni human error,” ujarnya.
Rentetan kecelakaan berlanjut pada Senin (18/8/2025) di PT LOI, Sagulung. Ignasius Igo (43), pekerja tetap sekaligus supervisor, hilang saat menyelam untuk mengecek balon ganjalan kapal tongkang yang tersangkut di bawah lambung kapal. Rekan-rekan yang menunggu di permukaan tak kunjung melihatnya kembali. Tim SAR baru menemukan jasadnya keesokan harinya.
Keluarga korban menuding perusahaan memberi tekanan berlebihan. “Abang kami dipaksa menyelesaikan masalah itu. Kalau balon tidak bisa keluar, dia yang akan disalahkan. Akhirnya dia menyelam tanpa perlengkapan safety memadai,” kata Robert, pihak keluarga. Mereka juga menilai upaya pencarian awal sarat kejanggalan dan tidak maksimal.
Dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan, tiga kecelakaan besar di Batuaji dan Sagulung sudah merenggut nyawa pekerja. Pola yang terlihat sama: lemahnya penerapan K3 dan dugaan kelalaian pengawasan.
Sejumlah pekerja mendesak pemerintah lebih tegas melakukan pengawasan. “Galangan kapal Batam menyerap ribuan tenaga kerja. Kalau keselamatan diabaikan, tragedi akan terus berulang,” ujar Arlan, seorang pekerja.
Keluarga korban berharap penegak hukum tidak berhenti pada penyelidikan, tetapi juga menegakkan keadilan dan memastikan perusahaan bertanggung jawab. “Jangan dianggap musibah biasa. Harus ada kejelasan dan pelajaran, supaya tidak terulang lagi,” tegas Robert. (*)
Reporter: Eusebius Sara



