
batampos – Masalah banjir di Batam yang tak kunjung usai menjadi sorotan tajam bagi masyarakat. Namun demikian, Wakil Wali Kota Batam sekaligus Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, meyakinkan pemerintahannya memiliki niat tulus untuk menyelesaikan persoalan ini.
Ia bahkan mengakui penanganan banjir bukanlah pekerjaan yang bisa selesai dalam sekejap layaknya pahlawan super. Li Claudia menceritakan, ia baru benar-benar memahami kompleksitas masalah banjir setelah melakukan pengamatan langsung sejak bulan Maret.
“Saya jadi mengerti persoalannya apa. Banjir di Batam tidak hanya disebabkan oleh hujan deras, tetapi juga oleh pasang air laut. Ini menjadi tantangan tambahan karena Batam dikelilingi lautan,” katanya, saat memberikan penyampaian saat temu ramah dengan para jurnalis, Rabu (3/9).
Ia juga menyorot peran masyarakat dalam mengatasi banjir. Salah satu penyebab utama adalah kebiasaan membuang sampah ke sungai.
“Saya juga minta ke masyarakat Batam kalau buang sampah jangan buang ke sungai, itu bisa menyebabkan banjir. Penanganan banjir memerlukan kolaborasi antara pemerintah dan warga,” ujar Li Claudia.
Meski begitu, ia optimistis dengan langkah-langkah yang telah diambil. Titik-titik yang sebelumnya rentan banjir kini sudah mulai berkurang. Progres ini, meskipun kecil, menunjukkan adanya perbaikan dari upaya yang telah dilakukan.
“Kalau mau diakui, kita bisa lihat titik-titik yang tadinya hujan sebentar bisa banjir, sekarang sudah berkurang,” ujarnya.
Dia juga menyinggung tentang hambatan dalam penanganan masalah ini, yaitu anggaran dan proses birokrasi. Ia menjelaskan, pekerjaan seperti ini tidak bisa dilakukan sembarangan, berbeda dengan sektor swasta.
“Anggaran itu setahun, dua kali: murni dan perubahan. Kan, enggak boleh suka-suka,” katanya.
Selain itu, ia menyebutkan rencana pembangunan infrastruktur lain, seperti menaikkan beberapa jembatan yang terlalu rendah dan menghambat aliran air. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperbaiki sistem drainase kota.
Lalu, ada pernyataan menarik dari Li Claudia, adalah pengakuan tentang tata kelola pembangunan Batam di masa lalu yang disebut “suka-suka”. Pernyataan ini menunjukkan komitmen untuk melakukan reformasi dan menata pembangunan kota agar lebih terencana dan tidak asal-asalan.
“Selama ini, pembangunan Batam pun, mohon maaf, suka-suka. Ini sekarang di zaman kami (Amsakar-Li Claudia) enggak bisa lagi suka-suka,” ujarnya.
Li Claudia menyampaikan harapannya agar masyarakat bisa bersabar dan memberikan dukungan. Penyelesaian masalah besar seperti banjir memerlukan waktu, dedikasi, dan kerja keras, bukan kekuatan super.
“Percaya sama kami. Mungkin dua tahun lagi bisa lebih baik. Butuh waktu. Kami bukan power rangers. Saya senang kritik. Tapi tentu kritiknya membangun. Jangan kami kerja, tapi dipikir enggak kerja,” ujarnya. (*)
Reporter: Arjuna



