
batampos – Kegiatan ekspor Kota Batam pada Juli 2025 mencatatkan kinerja positif dengan nilai mencapai US$ 1.743,78 juta. Angka ini naik sebesar US$ 189,97 juta atau 12,23 persen dibandingkan bulan Juni 2025.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, menjelaskan kenaikan ekspor tersebut dipicu oleh meningkatnya ekspor sektor nonmigas, sementara sektor migas justru mengalami penurunan.
“Ekspor migas turun 9,21 persen atau sekitar US$ 6,32 juta, sedangkan nonmigas naik 13,22 persen atau sekitar US$ 196,28 juta,” ujar Eko, Rabu (3/9).
Sepanjang Januari–Juli 2025, kumulatif ekspor Batam mencapai US$ 11.908,53 juta atau naik 25,95 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (c-to-c). Peningkatan itu sepenuhnya didorong oleh ekspor nonmigas yang melonjak US$ 2.468,18 juta (29,13 persen).
Baca Juga: Terseret Kasus Penipuan, Mantan Lurah Sei Harapan Berkelit
Golongan barang ekspor nonmigas dengan nilai terbesar pada Juli 2025 adalah Mesin/peralatan listrik (HS 85) senilai US$ 761,65 juta. Secara kumulatif, sejak Januari hingga Juli 2025, kategori ini juga mendominasi dengan nilai ekspor US$ 5.723,71 juta atau 52,31 persen dari total ekspor nonmigas Batam.
Selain itu, komoditas lain yang berkontribusi besar adalah Mesin-mesin/pesawat mekanik (HS 84) senilai US$ 1.400,50 juta (12,80 persen), Kapal laut (HS 89) senilai US$ 652,30 juta (5,96 persen), serta Benda dari besi dan baja (HS 73) senilai US$ 569,22 juta (5,20 persen).
Produk kimia (HS 38), kokoa/coklat (HS 18), minyak nabati (HS 15), plastik (HS 39), bahan kimia organik (HS 29), hingga kendaraan dan bagiannya (HS 87) juga menyumbang kontribusi signifikan.
“Untuk komoditas ikan dan udang, secara kumulatif Januari–Juli 2025 mengalami kenaikan 8,58 persen dibanding periode yang sama tahun 2024,” jelas Eko.
Dari sisi negara tujuan, Amerika Serikat menjadi pasar ekspor terbesar Batam pada Juli 2025 dengan nilai US$ 699,53 juta. Angka itu melonjak 30,33 persen dibanding Juni 2025 dan bahkan naik 111,65 persen dibanding Juli 2024.
“Selama Januari–Juli 2025, Amerika Serikat mencatat nilai ekspor tertinggi dari Batam, yakni US$ 3.338,85 juta,” ungkap Eko.
Negara tujuan terbesar lainnya adalah Singapura (US$ 2.773,58 juta), Tiongkok (US$ 656,02 juta), Saudi Arabia (US$ 551,96 juta), Jepang (US$ 409,44 juta), Australia (US$ 327,73 juta), India (US$ 289,86 juta), Belanda (US$ 253,98 juta), Vietnam (US$ 207,70 juta), dan Kanada (US$ 204,53 juta).
Dari sisi pelabuhan muat, Pelabuhan Batu Ampar menjadi jalur utama ekspor Batam dengan nilai US$ 1.289,47 juta pada Juli 2025, naik 17,39 persen dari bulan sebelumnya. Jika dibandingkan Juli 2024, lonjakan ekspor lewat Batu Ampar bahkan mencapai 82,52 persen.
Baca Juga: Harga Lebih Murah dari Jakarta, Properti Batam Jadi Incaran WNA
Secara kumulatif Januari–Juli 2025, ekspor melalui Batu Ampar mencapai US$ 8.306,31 juta. Posisi berikutnya adalah Pelabuhan Sekupang (US$ 1.556,50 juta), Kabil/Panau (US$ 981,94 juta), Belakang Padang (US$ 467,49 juta), serta Bandara Hang Nadim (US$ 45,93 juta).
“Kelima pintu keluar ini berkontribusi hingga 99,59 persen terhadap total ekspor Batam,” kata Eko.
Dari sisi volume, ekspor terbesar pada Juli 2025 juga tercatat di Pelabuhan Batu Ampar dengan 173,80 ribu ton, naik 19,82 persen dibanding Juni. Sepanjang 2025, volume ekspor kumulatif di pelabuhan tersebut mencapai 1.079,62 ribu ton atau berkontribusi 40,46 persen dari total ekspor Batam. (*)
Reporter: Rengga Yuliandra



