Hulu migas di Kepulauan Riau bukan hanya bicara energi, tapi juga tentang pekerjaan, ekonomi lokal yang bergerak, hingga harapan warga di Kepulauan Riau. Proyek Forel-Terubuk jadi titik balik, menyerap ribuan tenaga kerja dan memicu geliat industri.

Reporter: FISKA JUANDA
Geliat warung kopi, usaha perahu nelayan, hingga UMKM di Anambas, tak bisa dilepaskan dari denyut industri hulu migas. Manfaat migas dari laut dalam mengalir hingga daratan. Migas membuka lapangan pekerjaan, peluang usaha, dan menggerakkan ekonomi daerah.
Kehadiran industri hulu migas di Anambas, Kepulauan Riau, bukan hanya soal produksi energi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat lokal merasakan langsung denyut pembangunan.
Sektor Migas memberikan efek besar terhadap perekonomian. Meski sempat tertekan, sektor hulu migas bangkit dan memberikan pengaruh besar terhadap ekonomi Kepulauan Riau.
Dari catatan didapat Batam Pos, tahun 2023, ekonomi provinsi ini tumbuh 5,20 persen, dan di triwulan pertama 2025 kembali mencatatkan angka 5,16 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
“Semua ini berkat membaiknya perkembangan di sektor hulu migas,” kata Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, C.W. Wicaksono.
Wicaksono, mengatakan, titik balik penting dari sektor migas terjadi, Mei 2025 dengan beroperasinya Lapangan Forel dan Terubuk.
Proyek ini menambah kapasitasnya, 30.000 barrel oil equivalent per day (BOEPD). Keberadaan proyek ini dapat menyerap lebih dari 2.300 tenaga kerja.
Dari jumlah itu, sebanyak 1.386 orang bekerja di galangan kapal Batam yang menangani fasilitas produksi lepas pantai. Fakta ini menunjukkan, manfaat migas tidak berhenti di laut, tetapi menjalar ke daratan dalam bentuk lapangan kerja dan geliat industri.
Di Anambas, tenaga kerja migas sebagian besar merupakan putra daerah, terutama di posisi operator dan foreman. Kehadiran mereka bukan hanya menambah penghasilan rumah tangga, tetapi juga meningkatkan daya beli dan memutar roda perekonomian Anambas.
Dampak tidak langsungnya, dapat dirasakan masyarakat yang berjualan di warung, pemilik penginapan, pengelola jasa transportasi, hingga usaha kecil yang melayani kebutuhan proyek migas.
“Inilah multiplier effect sesungguhnya, ketika satu sektor menggerakkan sektor lain,” ucap Wicaksono.
Wicaksono mengatakan, multiplier effect juga hadir melalui program pemberdayaan masyarakat. Di Natuna dan Anambas, SKK Migas bersama KKKS dan pemerintah daerah konsisten menjalankan kegiatan sosial, pendidikan, dan lingkungan.
“Kami berikan beasiswa untuk pelajar berprestasi, pelatihan keterampilan nelayan, pemberdayaan perempuan melalui kerajinan dan UMKM, hingga bantuan sarana pendidikan dan kesehatan menjadi contoh nyata,” ucapnya.
Selain itu, kata Wicaksono, ada program peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal melalui pelatihan keselamatan kerja migas, pengelasan, dan operator alat berat.
Dia mengatakan, langkah ini demi memastikan masyarakat dapat terlibat langsung dalam industri, tidak sekadar menjadi penonton.
“Khusus di Anambas, ada forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP) dibentuk untuk mengoordinasikan program CSR agar tepat sasaran,” ujarnya.
Wicaksono menuturkan, ada berbagai dukungan konkret diberikan seperti, fasilitas sekolah, peralatan kesehatan, kapal nelayan, alat tangkap ramah lingkungan, hingga pelatihan kewirausahaan untuk generasi muda.
Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, kata Wicaksono juga ikut mendorong agar pendidikan migas masuk dalam agenda CSR. Sehingga anak-anak daerah seperti di Anambas dan Natuna memiliki peluang lebih besar untuk meniti karier di industri strategis ini.
Kontribusi migas bagi daerah juga hadir dalam bentuk penerimaan keuangan. Kabupaten Natuna misalnya, rutin menerima Dana Bagi Hasil (DBH) migas yang jumlahnya signifikan.
Pada 2025, alokasinya lebih dari Rp185 miliar, dengan Rp84 miliar di antaranya berasal dari migas. Tak hanya itu, BUMD Kepri kini resmi memiliki Participating Interest (PI) 10 persen di Blok Northwest Natuna, memastikan daerah ikut langsung menikmati hasil pengelolaan sumber daya alamnya.
“Tidak hanya daerah penghasil migas berdampak peningkatan ekonomi,” ucap Wicaksono.
Batam, sebagai pusat industri Kepri, kata Wicaksono, juga merasakan efek ganda dari industri migas. Kota Bandar Dunia Madani tersebut, menjadi basis penting bagi industri penunjang, mulai dari galangan kapal hingga pabrik komponen.
Salah satu contohnya adalah pabrik pipa seamless pertama di Indonesia yang kini mampu memproduksi 30.000 ton pipa per tahun, dengan target naik menjadi 70.000 ton pada akhir 2025.
Produk ini dipakai langsung dalam pengeboran sumur migas nasional. Galangan kapal Batam pun sukses mengerjakan konversi kapal tanker menjadi FPSO Marlin Natuna, sepenuhnya oleh tenaga kerja Indonesia.
“Multiplier effect hulu migas di Kepulauan Riau hadir berlapis-lapis. Di tingkat makro, menopang pertumbuhan ekonomi daerah di atas rata-rata nasional. Di tingkat fiskal, menambah penerimaan lewat DBH dan PI. Di tingkat sosial, menghadirkan program pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan. Di tingkat industri, memperkuat ekosistem penunjang yang menumbuhkan Batam sebagai pusat fabrikasi energi,” ucap Wicaksono. (*)



