
batampos– Ketersediaan obat cacing di Kota Batam, khususnya di rumah sakit hingga pukesmas di Batam aman. Meski begitu, Dinas Kesehatan Kota Batam tak menapik menerima informasi kosongnya stok obat cacing di apotek.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, dr Didi Kusmarjadi, menegaskan stok obat untuk program pemberantasan cacingan tersedia di seluruh puskesmas dan rumah sakit.
“Obat cacing cukup, distribusinya lancar. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Didi kepada Batam Pos, Selasa (24/9).
Didi mengakui, kelangkaan obat cacing sempat terjadi di sejumlah apotek swasta. Namun, kondisi itu berada di luar kendali pihak Dinkes.
BACA JUGA: Diduga Panic Buying Obat Cacing, Sejumlah Apotek di Batam Kehabisan Stok
“Kalau stok di apotek memang bukan kewenangan kami. Tapi untuk program pemerintah, obat cacing tersedia di puskesmas dan rumah sakit,” ucapnya.
Ia mengatakan, pihaknya sudah menanyakan langsung ke sejumlah jaringan apotek, termasuk Kimia Farma. Dari hasil komunikasi, diketahui bahwa kelangkaan disebabkan masalah distribusi nasional.
“Sejak ada kasus anak meninggal karena cacingan, permintaan obat cacing naik tajam. Dari distributor tidak ada pengiriman lagi, stok kosong secara nasional,” kata Didi menirukan keterangan pihak apotek.
Meski begitu, Didi menegaskan program pemberian obat cacing di Batam berjalan sesuai target. Untuk semester pertama tahun ini, angka capaian pemberian obat cacing mencapai hampir 85 persen, naik dibanding tahun sebelumnya.
“Semester kedua masih berlangsung karena baru masuk September. Kami optimistis capaian bisa meningkat lagi,” ujarnya.
Menurut Didi, pemberian obat cacing dilakukan dua kali dalam setahun, idealnya setiap enam bulan sekali. Program ini menyasar anak usia 12–59 bulan melalui posyandu, serta anak usia sekolah dasar melalui sekolah dan fasilitas kesehatan.
“Waktu pelaksanaan biasanya Februari dan Agustus, tapi bisa menyesuaikan kondisi. Dosis juga berbeda sesuai usia,” jelasnya.
Ia memaparkan, anak usia 12–23 bulan mendapat Albendazol 200 mg, sementara anak usia 2–12 tahun diberikan 400 mg dalam dosis tunggal.
Didi tidak menutup mata bahwa kasus cacingan masih ditemukan di Batam. Namun, prevalensinya tidak separah daerah lain di Indonesia. “Ada, tapi tidak tinggi. Kondisi anak-anak yang terdampak juga masih bisa ditangani,” katanya.
Karena itu, Dinkes terus menggencarkan distribusi obat cacing melalui program kesehatan masyarakat. “Kami proaktif menyalurkan obat, terutama ke posyandu dan sekolah. Ini bagian dari upaya menjaga kesehatan anak-anak Batam,” ujar Didi.
Ia berharap masyarakat tetap mendukung program ini dengan memastikan anak-anak ikut serta setiap kali jadwal pemberian obat cacing tiba. “Semakin banyak yang ikut, semakin efektif kita mencegah masalah cacingan,” pungkasnya. (*)
Reporter: Yashinta



