
batampos– Polsek Sagulung mengungkap modus bejat seorang guru ngaji berinisial Am di kawasan Sei Lekop, Kecamatan Sagulung, Kota Batam. Pelaku mencabuli tiga muridnya dengan dalih mengurut, hingga menyebabkan para korban mengalami trauma mendalam.
Kapolsek Sagulung, Iptu Husnul, menjelaskan modus pelaku dilakukan dengan cara menyuruh para korban berbaring lalu berpura-pura mengurut tubuh mereka.
“Dari keterangan tiga korban, ada yang mengalami perlakuan itu dua kali, ada yang sampai lima kali, dan ada juga sekali. Semuanya kini dalam kondisi trauma,” ungkapnya, Senin (29/9).
Untuk memulihkan kondisi psikis para korban, pihak kepolisian akan menghadirkan ahli trauma. “Kami akan mendampingi mereka dengan tenaga profesional agar trauma yang dialami tidak berlarut-larut,” tambahnya.
Iptu Husnul menuturkan, pihaknya juga telah mengamankan lokasi kejadian guna mencegah potensi perundingan massa terhadap keluarga pelaku. “Ini kami lakukan agar tidak terjadi aksi main hakim sendiri. Proses hukum tetap menjadi jalur penyelesaian utama,” ujarnya.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Sagulung, Iptu Anwar Aris, menjelaskan bahwa kejadian pencabulan berlangsung di sebuah tempat ngaji yang terletak di depan rumah pelaku. “Tempat ngaji itu terpisah dengan rumah keluarga pelaku. Muridnya hanya sekitar lima orang, dan tiga di antaranya menjadi korban,” jelas Anwar.
Menurut Anwar, modus pelaku selalu sama. Ia menggunakan alasan mengurut untuk mendekati para korban. “Bahkan ada satu korban yang katanya sering ngompol. Pelaku menawarkan untuk mengurut, tapi justru melakukan perbuatan tidak terpuji,” tegasnya.
Dari hasil penyelidikan, perbuatan pelaku ternyata dilakukan berulang kali dengan pola yang sama. Ketiga korban yang melapor mengaku mengalami perlakuan serupa, yakni digerayangi ketika disuruh berbaring.
Saat dimintai keterangan oleh penyidik, pelaku Am tidak bisa mengelak. Ia mengakui seluruh perbuatannya. Pengakuan itu pun semakin menguatkan keterangan para korban dan saksi di sekitar lokasi kejadian.
Kasus ini mengguncang masyarakat, karena terjadi di tempat ngaji yang seharusnya menjadi ruang anak-anak menimba ilmu agama. Kepercayaan yang diberikan justru dikhianati oleh pelaku.
Polisi memastikan kasus ini akan diproses hingga tuntas. Kapolsek Sagulung mengimbau para orang tua agar lebih waspada dalam mengawasi anak-anak, meskipun sedang berada di lingkungan yang dianggap aman. “Karena pelaku kejahatan anak sering kali justru berasal dari orang-orang terdekat,” pungkasnya. (*)
Reporter: Eusebius Sara



