Sabtu, 17 Januari 2026

Lauk Basi, Anak Sakit, Program MBG Disorot, Pemerintah Perketat Pengawasan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
SPPG Seipelenggut yang tutup beroperasi. Foto. Eusebius Sara/ Batam Pos

batampos – Tujuan mulia di balik program Makan Bergizi (MBG) untuk siswa di Batam kini mulai tercoreng oleh rentetan kasus makanan bermasalah. Beberapa waktu terakhir, laporan soal lauk basi hingga gangguan pencernaan yang dialami siswa membuat banyak orangtua cemas setiap jam makan siang tiba.

Nurliza, orangtua siswa SD di kawasan Batuaji, mengaku ikut khawatir melihat pemberitaan yang berkembang. “Saya setuju dengan program ini, tapi tolong kualitas makanannya dijaga. Kami tidak ingin anak-anak jadi korban,” ujarnya kepada Batam Pos, Senin (6/10).

Keluhan serupa muncul di berbagai sekolah penerima manfaat MBG. Kekhawatiran itu bahkan memicu sebagian orangtua memilih membawakan bekal dari rumah untuk memastikan anak mereka tidak makan sembarangan di sekolah.

Baca Juga: Dapur MBG Seipelenggut Ditutup Sementara, SPPG: Tunggu Hasil Pemeriksaan Lengkap

Menanggapi kondisi ini, Pemerintah Kota Batam melalui Sentra Satuan Penyedia Gizi (SSPG) mengambil langkah cepat. Salah satunya dengan mewajibkan semua dapur penyedia MBG mempublikasikan menu harian mereka lewat media sosial, terutama Instagram. Kebijakan ini diterapkan agar pengawasan bisa dilakukan secara terbuka oleh masyarakat.

“Kami ingin transparan. Masyarakat bisa langsung lihat menu yang disajikan setiap hari. Kalau ada masalah, bisa cepat disampaikan dan ditindak,” tegas Koordinator SSPG Batam, Defri Frenaldi.

Selain itu, pihak sekolah juga diminta aktif melapor jika ditemukan makanan yang tak layak konsumsi. Dengan sistem pelaporan dua arah ini, diharapkan makanan bermasalah bisa langsung ditarik sebelum dikonsumsi anak-anak.

Saat ini, terdapat 74 dapur SSPG yang telah mengantongi SK resmi di Batam. Dari jumlah itu, 59 dapur aktif melayani sekitar 18.874 siswa, yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari 73 PAUD, 156 SD, 91 SMP, 55 SMA/SMK, satu SLB, serta lembaga RA, MI, MA, hingga Posyandu.

Namun di tengah angka capaian yang cukup besar, kepercayaan publik terhadap kualitas makanan menjadi tantangan berat. Sejumlah siswa disebut mulai enggan menyantap makanan MBG karena trauma dari insiden sebelumnya.

Penyelenggara program MBG menyadari pentingnya evaluasi menyeluruh. “Moto kami jelas: Sehat, Bergizi, Bahagia. Satu saja kasus bisa membuat kepercayaan masyarakat runtuh. Maka harus dikawal bersama,” ujar Defri.

Dengan sistem transparansi menu dan pengawasan yang diperketat, pemerintah berharap ke depan MBG bisa kembali dipercaya publik. Sebab, gizi anak tak boleh menjadi risiko akibat kelalaian. (*)

Reporter: Eusebius Sara

Update