
batampos– Sejumlah orang tua murid di kawasan Tiban, Sekupang, dibuat heran dengan isi tas anak mereka sepulang sekolah. Bukan buku pelajaran atau bekal sisa, melainkan berbagai jenis jajanan sachet seperti minuman serbuk instan, biskuit, hingga roti kemasan. Semua itu merupakan bagian dari program Makan Bergizi (MBG) yang disalurkan ke sekolah dasar.
Sari, salah satu orang tua murid, mengaku kaget ketika anaknya membawa pulang beberapa bungkus jajanan instan dari sekolah. “Sudah hampir seminggu, anak saya pulang selalu bawa makanan sachet. Kadang biskuit, kadang energen, ada juga roti dan buah,” ujarnya, Jumat (10/10).
Yang membuatnya bingung, kata Sari, adalah kandungan gizi dari makanan tersebut. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin minuman tinggi gula seperti sereal instan masuk dalam daftar makanan bergizi bagi anak sekolah.
“Saya jaga betul makanan anak di rumah, supaya tidak banyak konsumsi olahan instan. Eh, malah dapat dari program MBG. Kalau beli pun biasanya saya sembunyikan, supaya tidak diminum,” katanya.
Sari menuturkan, jenis makanan sachet itu mulai diterima anaknya sejak ujian tengah semester berlangsung. Ia berharap penyedia makanan bisa menyalurkan bahan pangan yang lebih sehat dan alami, bukan produk kemasan.
“Kalau bisa diberikan makanan nyata seperti nasi, lauk, sayur, bukan jajanan pabrikan,” tambahnya.
BACA JUGA: Lauk Basi, Anak Sakit, Program MBG Disorot, Pemerintah Perketat Pengawasan
Pada Jumat (10/10) pagi, lanjut Sari, menu yang diterima anaknya justru lebih aneh. Ia pun sampai geleng-geleng kepala.
“Hari ini malah dapat susu UHT, roti, dan beberapa butir buah lengkeng. Saya heran, bagaimana cara hitung gizinya,” ungkapnya.
Keluhan serupa datang dari sejumlah orang tua murid lain di wilayah Tiban dan Sekupang. Mereka menilai menu MBG yang dibagikan tidak mencerminkan asupan gizi seimbang seperti yang dijanjikan pemerintah.
“Kadang cuma satu telur, susu, dan biskuit. Kalau begini, apa iya bisa disebut makan bergizi? Geleng-geleng kepala saya,” kata seorang ibu yang anaknya bersekolah di SD kawasan Tiban.
Para orang tua berharap pemerintah atau pihak penyedia MBG lebih memperhatikan kualitas serta keseimbangan nutrisi makanan yang diberikan. Mereka khawatir jika kebiasaan konsumsi makanan instan justru menggeser pola makan sehat anak-anak.
Beberapa waktu lalu Ketua Koordinator SPPG Kota Batam, Defri Frenaldi, menjelaskan bahwa tidak ada menu khusus yang diwajibkan dalam program MBG di setiap sekolah. Menurutnya, semua jenis makanan yang disalurkan telah melalui perhitungan kebutuhan dasar anak.
“Setiap menu tetap ada hitungannya. Mungkin bentuknya sachet, tapi tetap diperhitungkan karbohidrat, protein, dan kebutuhan gizi lainnya,” ujarnya saat dikonfirmasi.
Ia menjelaskan, anggaran MBG untuk satu anak berkisar Rp 13-15 ribu. Namun anggaran itu tidak seluruhnya untuk porsi makan anak, melainkan dibagi untuk biaya operasional, sewa tempat SPPG dan lainnya.
“Untuk biaya makan perporsi itu berkisar Rp 8-10 ribu,” sebutnya. (*)
Reporter: Rengga



