
batampos – Penyelidikan kasus ledakan kapal MT Federal II di galangan PT ASL Marine Shipyard, Tanjunguncang, yang menewaskan 13 pekerja, terus berlanjut. Hingga Rabu (22/10), penyidik Polresta Barelang bersama Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polri masih melakukan serangkaian pemeriksaan lanjutan di lokasi kejadian untuk memastikan penyebab pasti ledakan.
Kapolresta Barelang Kombes Pol Zaenal Arifin mengatakan, hingga saat ini sudah 22 orang saksi diperiksa, termasuk para pekerja, pihak subkontraktor, dan manajemen perusahaan. Pemeriksaan dilakukan untuk mengurai konstruksi peristiwa serta potensi kelalaian yang menyebabkan ledakan maut tersebut.
“Penyelidikan masih berlanjut, dan kami menunggu hasil pemeriksaan dari Tim Labfor yang tengah menyelidiki lokasi kapal,” ujar Zaenal, Rabu (22/10).
Baca Juga: Ratusan Buruh Batam Gelar Aksi di Depan PT ASL, Tuntut Penegakan K3 dan Hapus Outsourcing
Menurutnya, hasil pemeriksaan Labfor akan menjadi dasar utama dalam menentukan langkah hukum selanjutnya, termasuk identifikasi sumber api dan titik awal ledakan di kapal tanker tersebut. Tim juga mendalami apakah prosedur keselamatan kerja atau Standard Operating Procedure (SOP) diterapkan dengan benar saat pekerjaan berlangsung.
“Semua masih dikaji secara menyeluruh, mulai dari teknis pengerjaan di dalam kapal, izin kerja panas (hot work permit), hingga prosedur pengawasan terhadap gas berbahaya,” tambah Zaenal. Ia menegaskan, penyidik berhati-hati dalam setiap langkah agar hasil penyelidikan akurat dan tidak spekulatif.
Disinggung mengenai kemungkinan keterlibatan pihak pengawasan dari Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) dalam proses pemeriksaan, Kapolresta belum bersedia berkomentar banyak. “Masih kami dalami. Pemeriksaan masih berjalan dan saksi-saksi di lokasi juga terus kami mintai keterangan,” ujarnya singkat.
Ledakan hebat yang terjadi pada Rabu (15/10) dini hari itu mengguncang kawasan industri galangan kapal di Tanjunguncang. Kapal tanker MT Federal II yang tengah dalam proses perbaikan tiba-tiba meledak, menimbulkan kobaran api besar dan menewaskan belasan pekerja. Sebagian besar korban merupakan karyawan subkontraktor yang tengah melakukan pekerjaan pengelasan dan pembersihan tangki.
Tragedi tersebut kini menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan lembaga keselamatan kerja. Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura sebelumnya menegaskan akan melakukan audit menyeluruh terhadap sistem keselamatan di PT ASL dan perusahaan-perusahaan galangan lainnya di Batam. Audit dilakukan untuk memastikan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) benar-benar dijalankan.
Pihak kepolisian memastikan penanganan kasus ini dilakukan secara profesional dan transparan. “Kami pastikan semua aspek diselidiki, baik dari sisi teknis, kelalaian manusia, maupun sistem pengawasan keselamatan kerja. Hasil akhir akan kami sampaikan setelah penyelidikan tuntas,” tegas Kapolresta Zaenal Arifin.
Dengan 22 saksi yang telah diperiksa dan dukungan investigasi ilmiah dari Tim Labfor Polri, publik kini menanti hasil akhir penyelidikan yang diharapkan mampu mengungkap penyebab sebenarnya dari tragedi yang merenggut 13 nyawa pekerja tersebut. (*)
Reporter: Eusebius Sara



