
batampos – Krisis air bersih yang menimpa sebagian kawasan di Kota Batam, terutama Batu Merah dan Tanjung Sengkuang, masih jadi pekerjaan rumah besar bagi BP Batam. Warga di dua kawasan itu sudah berbulan-bulan harus berhemat bahkan antre air dari mobil tangki.
PT Air Batam Hilir dan PT Air Batam Hulu (ABHi–ABHu), selaku operator dan pemelihara jaringan air di Batam, memastikan tetap menjalankan tugas operasional seoptimal mungkin. Mereka menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur baru—seperti pipa jaringan dan peningkatan kapasitas pasokan—adalah kewenangan BP Batam melalui Badan Usaha SPAM Batam sebagai pemilik aset dan pengambil kebijakan strategis.
“Langkah darurat berupa pengiriman air lewat mobil tangki terus dilakukan untuk meringankan beban warga,” tulis Ginda AL – Corporate Comunication ABH, dalam pernyataan resmi PT ABHi. Mereka juga mendukung penuh program peningkatan kapasitas yang dicanangkan BP Batam, termasuk proyek strategis peningkatan suplai dan jaringan perpipaan yang ditargetkan segera terealisasi.
Di lain pihak, BP Batam mulai buka-bukaan soal akar masalah dan langkah nyata yang sedang dikejar untuk mengatasinya.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait, menegaskan bahwa secara kapasitas, Batam tidak kekurangan air. Dari sembilan waduk yang ada, tujuh di antaranya aktif beroperasi dengan total produksi sekitar 4.200 liter per detik.
“Airnya cukup. Persoalan utamanya ada di jaringan distribusi dan keterbatasan anggaran,” ujarnya.
Tuty menjelaskan, pembangunan infrastruktur air tidak hanya soal memperbesar waduk, tapi juga memperluas jaringan distribusi—dan ini butuh investasi besar. Salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan adalah pembangunan Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sei Ladi, serta jaringan distribusi baru menuju Tanjung Piayu Laut, wilayah yang selama ini belum pernah teraliri air bersih.
Namun, fokus utama tetap pada Batu Merah dan Tanjung Sengkuang. Dua kawasan ini termasuk stress area—wilayah dengan tekanan air rendah yang sudah lama menjadi masalah. Dari 32 stress area yang dulu dikelola PT Adhya Tirta Batam (ATB), BP Batam kini masih mewarisi 18 titik yang belum terselesaikan.
“Dalam tiga tahun terakhir, kami sudah menuntaskan lima titik. Tapi 18 lainnya masih menunggu realisasi anggaran,” jelas Tuty.
Untuk memperbaiki aliran, BP Batam kini menerapkan rekayasa jaringan air. Tekanan air tinggi dialihkan secara bergiliran agar suplai lebih merata. Di sisi lain, solusi permanen sudah disiapkan: pembangunan pipa tambahan dari waduk menuju Tangki Ozon dan Tangki Bukit Senyum, yang jadi pusat distribusi utama bagi kawasan Batu Merah dan sekitarnya.
Proyek ini senilai Rp98 miliar dan diharapkan rampung hingga tangki Ozon—berkapasitas total 12 ribu meter kubik—bisa beroperasi penuh. “Kalau sistem ini selesai, kebutuhan air di Batu Merah dan Tanjung Sengkuang bisa terpenuhi,” ujar Tuty optimistis. (*)



