Rabu, 14 Januari 2026

Tekan Inflasi, Pemko Batam Perbanyak Pasar Murah di Seluruh Kecamatan

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Warga memanfaatkan pasar murah yang diselenggarakan oleh Pemko Batam.
F. Cecep Mulyana / Batam Pos

batampos – Pemerintah Kota (Pemko) Batam melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Disperindag, memperbanyak operasi pasar dan pasar murah sebagai langkah utama menahan tekanan inflasi yang terus terjadi sepanjang tahun. Kebijakan intervensi harga ini digencarkan di berbagai kecamatan untuk memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok serta melindungi daya beli masyarakat menjelang akhir tahun.

Sekda Kota Batam, Firmansyah, menyampaikan, pemerintah daerah tidak tinggal diam menghadapi dinamika harga komoditas yang sensitif. Ia menyebut operasi pasar menjadi strategi kunci pengendalian inflasi di tingkat daerah.

“Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan) rutin melaksanakan operasi pasar. Selain itu, Bagian Perekonomian Setdako Batam juga menggelar pasar murah menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru),” Senin (24/11).

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi Batam bulan ke bulan mencapai 0,43 persen, inflasi tahun ke tahun sebesar 2,26 persen, dan inflasi tahun kalender mencapai 3,19 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 110,14. Kenaikan ini terjadi di tengah meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan dan nonpangan.

Inflasi year on year (y-on-y) sebesar 3,19 persen dipicu kenaikan harga pada sepuluh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 16,51 persen. Disusul makanan, minuman, dan tembakau yang naik 5,35 persen; penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,35 persen; serta pendidikan yang naik 1,26 persen.

Sementara itu, kelompok transportasi justru mencatatkan deflasi sebesar 0,99 persen, menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami penurunan harga sepanjang periode pengamatan.

Adapun komoditas yang menyumbang inflasi y-on-y antara lain emas perhiasan, cabai merah, sewa rumah, sigaret kretek mesin (SKM), minyak goreng, biaya perguruan tinggi, telur ayam ras, daging sapi, dan pisang. Sedangkan angkutan udara, bawang merah, bawang putih, serta sejumlah jenis ikan justru menjadi penyumbang deflasi.

Untuk inflasi month to month (m-to-m), komoditas pendorong inflasi mencakup emas perhiasan, cabai merah, angkutan udara, udang basah, sewa rumah, dan ikan tongkol/ambu-ambu. Sementara bayam, cabai rawit, kangkung, daging ayam ras, ketimun, dan buncis menjadi penahan inflasi.

Firman yang juga Ketua Harian Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menegaskan bahwa operasi pasar dan pasar murah akan terus diperluas untuk menjaga stabilitas harga terutama pada komoditas pangan yang paling rentan mengalami lonjakan.

“Semoga program pemerintah ini mampu menjaga daya beli dan ketahanan ekonomi warga Batam,” ujarnya.

Secara nasional, inflasi Oktober 2025 tercatat 0,28 persen secara bulanan, 2,10 persen secara tahunan, dan 2,84 persen untuk tahun kalender. Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut kenaikan harga emas menjadi salah satu pemicu inflasi nasional, dengan lonjakan mencapai 52,76 persen dan memberi andil besar pada inflasi nonmakanan. (*)

Reporter: Arjuna

Update