Senin, 19 Januari 2026

Kerja dari Subuh hingga Malam, Gaji Tak Naik Tiga Tahun, Sopir Truk Sampah Batam Tagih Janji Kenaikan Gaji

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Ilustrasi. Petugas kebersihan mengangkut sampah di wilayah Batam Center. Foto: Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos – Sejumlah sopir truk sampah di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam menyampaikan keluhan soal gaji yang dinilai tidak sebanding dengan beban kerja mereka. Dengan penghasilan sekitar Rp3,6 juta per bulan, para sopir mengaku tanggung jawab yang mereka pikul terus meningkat, namun upah tidak mengalami perubahan selama tiga tahun terakhir.

Zulfikar, salah seorang sopir, menuturkan mereka mulai bekerja sejak pukul 05.00 WIB setiap hari, mengangkut puluhan ton sampah dari berbagai kawasan di Batam. Selain menghadapi risiko di jalan raya, mereka juga berhadapan dengan situasi berat di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur, mulai dari antrean panjang, medan yang licin, hingga armada yang sering rusak.

“Kalau jam kerja kami, nggak ada jam kerja. Kerja kami jam mati. Hujan pun tetap jalan. Minimal dua trip sehari,” ujarnya. “Masuk perumahan wajib dua trip walaupun pulangnya malam.”

Hari libur pun sangat terbatas. Para sopir hanya mendapatkan libur satu kali dalam sepekan, tepatnya hari Minggu. “Kalau hari besar nggak ada libur. Tanggal hitam semua,” tambahnya.

Menurut Zulfikar, keluhan soal gaji sudah berkali-kali disampaikan dalam rapat internal DLH, namun tidak pernah membuahkan hasil. “Gaji kami di bawah UMK Batam. Sudah berkali-kali dibahas, jawabannya selalu ‘diproses’. Tapi sampai sekarang sama saja,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Marcel, sopir lainnya. Ia menyebut janji kenaikan gaji yang disebut-sebut akan direalisasikan tahun 2025, hingga kini tidak jelas. “Awal tahun dibilang naik, sampai sekarang tetap nggak naik. Kami protes, tapi kami ini hanya pekerja,” katanya.

Pekerjaan mereka, kata Marcel, semakin berat karena kondisi TPA yang sering macet. “Di TPA sekarang sering antre. Sampahnya menumpuk, jalannya licin. Truk kadang nggak bisa naik,” ujarnya.

Ia menambahkan beban kerja yang besar tidak diimbangi dengan insentif atau bonus apa pun. “Gaji Rp3,6 juta, bonus pun nggak ada. Kalau dibilang cukup, ya nggak cukup. Beban kerjanya berat,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, DLH Kota Batam belum memberikan penjelasan resmi. Batam Pos telah mencoba menghubungi Kepala DLH Batam, Herman Rozie, namun belum mendapatkan tanggapan. (*)

ReporterM. Sya'ban

Update