
batampos – Pemerintah Kota Batam membangun jalur distribusi cabai mandiri untuk mengendalikan fluktuasi harga di pasaran. Upaya tersebut dilakukan melalui program Cabai Corner, kios khusus penjualan cabai yang dikelola kelompok wanita tani (KWT) binaan di berbagai wilayah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Batam Mardanis mengatakan, Cabai Corner dirancang sebagai jalur distribusi langsung dari petani lokal ke konsumen tanpa melalui perantara atau tengkulak.
“Skemanya jelas. Kami ingin memutus mata rantai tengkulak sekaligus menekan inflasi pangan, khususnya komoditas cabai yang selama ini sangat fluktuatif,” ujar Mardanis.
Baca Juga: Hipertensi dan ISPA Dominasi Penyakit Terbanyak di Batam
Dalam sistem Cabai Corner, seluruh proses pemesanan hingga penyaluran dikendalikan DKPP Batam. Petani dan KWT tidak berhadapan langsung dengan pembeli maupun pengelola kios, sehingga harga dapat dikendalikan lebih stabil.
Saat ini, sebanyak 14 KWT telah menjalankan sistem dropship Cabai Corner. Pada tahap awal, program ini difokuskan sebagai proses pembelajaran bagi kelompok, mulai dari pencatatan produksi, pengelolaan distribusi, hingga komunikasi pemasaran. Seiring waktu, mekanisme tersebut dinilai semakin rapi dan stabil.
Secara keseluruhan, DKPP Batam membina 93 KWT yang terlibat dalam berbagai program penguatan produksi pangan, termasuk program Pekarangan Pangan Lestari (P2L) yang memanfaatkan pekarangan rumah untuk pembibitan mandiri.
Baca Juga: Kemenhaj Batam Kawal Pelunasan BIPIH Tahap II agar Kuota Haji Tak Hangus
Dari sisi produksi, Batam mulai menunjukkan kemandirian cabai. Penanaman dilakukan di lahan seluas sekitar 15 hektare yang tersebar di Kecamatan Sei Beduk, Nongsa, dan Sagulung. Komoditas cabai menjadi salah satu prioritas penguatan pangan pemerintah kota.
Sejumlah kelompok tani, seperti Sidomukti dan Bumi Makmur, bahkan telah memulai panen dengan hasil awal mencapai sekitar 100 kilogram. Panen selanjutnya diperkirakan berlangsung bertahap hingga menjelang Ramadan karena pola tanam tidak dilakukan secara serentak.
“Tidak serentak karena keterbatasan sumber daya dan untuk mengantisipasi cuaca. Musim hujan berisiko memicu hama seperti layu dan busuk akar, sehingga waktu tanam harus diatur,” jelas Mardanis.
Baca Juga: Aktivis Buruh Batam Soroti KUHP Baru, Minta Pemerintah Lebih Peka Aspirasi Rakyat
Pendampingan teknis di lapangan terus dilakukan untuk meminimalkan risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem. Menurutnya, penguatan kapasitas KWT menjadi kunci keberlanjutan program Cabai Corner.
“Cabai Corner bukan hanya soal harga murah, tetapi membangun sistem usaha pangan yang sehat dan berkelanjutan. Target kami tahun ini ada 100 Cabai Corner yang beroperasi di Batam,” tegasnya.
Ke depan, Cabai Corner juga akan dikembangkan menjadi kios pangan terpadu dengan menjual komoditas lain seperti sayuran dan beras. Program ini diharapkan tidak hanya menjadi penyangga harga cabai, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan masyarakat Kota Batam. (*)



