
batampos– Tumpukan sampah berserakan dan bau menyengat nyaris sepekan terakhir menghantui kawasan pusat Kota Batam. Sampah rumah makan dan pertokoan terlihat jelas di sepanjang Jalan Raja M Tahir, deretan pertokoan Greenland, Batam Center, tanpa pengangkutan dari petugas kebersihan.
Pantauan di lokasi, pada Rabu (28/1) sore, sampah makanan memenuhi trotoar. Plastik, sisa makanan, dan kardus bekas berserakan, menimbulkan aroma tak sedap yang menusuk hidung. Kondisi ini ironis, mengingat lokasi tersebut berada di kawasan strategis yang ramai aktivitas kuliner dan perdagangan.
Keluhan datang hampir dari seluruh pelaku usaha di sepanjang ruas jalan itu. Mereka mengaku rutin membayar iuran kebersihan Rp150 ribu per bulan, namun pengangkutan sampah justru kerap terhenti tanpa kejelasan.
“Kami sebagai pemilik warung tak enak lah sama pengunjung, makan ditemani bau sampah,” kata Irna Wati, salah seorang pemilik warung, kepada Batam Pos.
Ia khawatir kondisi tersebut mengusir pelanggan dan mencoreng citra kawasan usaha. Apalagi, lokasi itu kerap dikunjungi warga maupun pendatang yang mencari tempat makan.
Keluhan serupa disampaikan Yusril, juru parkir di kawasan tersebut. Menurutnya, tumpukan sampah sudah terjadi hampir lima hari terakhir.
“Sudah lima hari sampah menumpuk tidak diangkut sama mobil sampah,” ujarnya.
Sebagai pusat kota, kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan. Selain mengganggu kenyamanan pengguna jalan dan pengunjung toko, tumpukan sampah juga merusak estetika wajah Kota Batam.
“Padahal kita rutin bayar iuran sampah, tidak pernah alpa. Tapi sampah tidak diangkut-angkut,” keluh Mahesa, penjaga warung di lokasi.
Mahesa menambahkan, persoalan pengangkutan sampah bukan baru kali ini terjadi. Warga dan pelaku usaha sering kali harus menghubungi petugas berulang kali, bahkan melapor ke pihak kelurahan, sebelum sampah akhirnya diangkut.
“Kejadian ini bukan sekali. Jarang diangkut. Berkali-kali kita harus lapor, bahkan ke lurah, itu pun lama baru diangkut,” katanya.
Dalam kondisi tertentu, warga bahkan terpaksa mengeluarkan biaya pribadi demi menjaga kebersihan lingkungan usaha mereka.
“Pernah sekali saya sewa mobil pick up sendiri, bayar Rp500 ribu, cuma buat angkut dan buang sampah,” ungkap Mahesa.
Hingga berita ini diturunkan, Batam Pos telah berupaya menghubungi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Herman Rozie, untuk meminta tanggapan terkait keluhan warga dan pelaku usaha tersebut. Namun, belum ada respons yang diberikan.



