Sabtu, 31 Januari 2026

Kapal Bermuatan Limbah Hitam Kandas di Sekupang, Khawatir Laut Tercemar

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Kapal Bermuatan Limbah Kandas
Kapal LCT Mutiara Haluan Samudera bermuatan limbah minyak hitam terdampar di perairan Dangas.

batampos – Kapal LCT Mutiara Haluan Samudera bermuatan limbah minyak hitam terdampar di perairan Dangas, tepatnya di kawasan Pantai Tanjung Pinggir, Sekupang, Kota Batam, Jumat (30/1) pagi.

Insiden ini memicu kekhawatiran pencemaran laut dan ancaman serius terhadap ruang tangkap nelayan setempat.

‎Kapal tersebut diduga milik PT Haluan Samudera dan tengah berlayar menuju Pelabuhan Bintang 99 Persada, Batu Ampar, untuk melakukan bongkar muat. Berdasarkan penelusuran di lapangan, muatan kapal diketahui berupa limbah minyak hitam.

‎Ketua Pokmaswas sekaligus Ketua HNSI Bidang Lingkungan Hidup, M. Sapet, mengatakan pihaknya menemukan indikasi pencemaran yang sudah meluas hingga ke perairan Sekupang.

Baca Juga: Kapal Angkut Limbah Kandas di Dangas, KSOP Batam Pasang Oil Boom

Saat ia berada di lokasi, Sapet menyebut Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) telah memasang oil boom sebagai langkah awal pengamanan.

‎“Limbahnya sudah menyebar sampai ke titik Sekupang. Bahkan masih ada limbah minyak di area pantai yang belum sempat dievakuasi oleh pihak perusahaan,” kata Sapet.

‎Berdasarkan berita acara yang diterima Pokmaswas, kapal tersebut berlayar dari NT Net Universi menuju Pelabuhan Bintang 99 Persada. Sapet menegaskan, muatan limbah hitam itu telah diamankan sampelnya sebagai bukti awal.

‎“Mereka membawa limbah hitam, dan sampelnya sudah kami pegang,” ujarnya.

‎Hingga kini, kapal masih berada di lokasi kejadian dan belum dievakuasi sepenuhnya. Menurut Sapet, proses penanganan masih menunggu langkah dari pihak perusahaan. Ia menilai insiden ini bukan yang pertama kali terjadi di perairan Batam.

‎“Persoalan tumpahan minyak ini hampir setiap tahun terjadi di Batam. Entah sumbernya dari dalam wilayah atau dari luar, tapi dampaknya selalu dirasakan masyarakat pesisir,” tegasnya.

Baca Juga: Curanmor Marak di Seibeduk, 2 Motor Raib Dalam Semalam

‎Sapet menyebut pihak kapal mengklaim kejadian tersebut disebabkan faktor cuaca, khususnya angin utara yang kencang. Namun, ia menegaskan alasan tersebut tidak bisa serta-merta menghapus tanggung jawab perusahaan.

‎“Banyak pihak minta verifikasi kronologis kejadian. Tapi sebagai kelompok masyarakat pengawas kelautan, kami berharap pemerintah dan instansi terkait bertindak tegas,” ujarnya.

‎Sapet menambahkan, di dalam kapal terdapat enam orang awak kapal yang kini telah dievakuasi ke darat. Ia juga meminta agar proses evakuasi kapal dan pembersihan limbah dilakukan secepat mungkin.

‎“Masih ada karung-karung berisi limbah minyak di pinggir pantai. Kalau tidak segera dibersihkan, air pasang bisa membuat limbah menyebar lebih luas. Kalau karung pecah, pencemaran akan berulang dan semakin parah,” ujarnya.

‎Sementara itu, Sapet mengaku berdasarkan keterangan kapten kapal, insiden tersebut diklaim terjadi akibat cuaca buruk dan angin utara yang kencang.

Namun demikian, masyarakat dan nelayan berharap alasan tersebut tidak menjadi dalih untuk menghindari tanggung jawab atas pencemaran laut yang terjadi.(*)

ReporterM. Sya'ban

Update