
batampos – Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam bergerak cepat menindaklanjuti insiden kandasnya Kapal LCT Mutiara Garlib Samudera di perairan Pulau Dongas yang terjadi pada Kamis (29/1). Untuk mencegah terjadinya pencemaran perairan dan kawasan pesisir di sekitar lokasi kejadian, KSOP Khusus Batam bekerja sama dengan PT Pertamina Port & Logistic melakukan penambahan penggelaran oil boom sepanjang 200 meter.
Selain penggelaran oil boom, dalam upaya respons darurat tersebut juga dikerahkan sejumlah peralatan penanggulangan pencemaran berupa skimmer dan pompa. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap potensi tumpahan limbah minyak yang dapat mencemari perairan serta berdampak pada ekosistem laut dan aktivitas masyarakat pesisir.
Pergelaran oil boom dilaksanakan oleh personel Kapal Patroli KN 330 dan KN 376 milik KSOP Khusus Batam, bersama kru dari PT Pertamina Port & Logistic. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari personel Pangkalan Pengawasan Laut dan Pantai (PLP) Tanjung Uban. Sejumlah kapal patroli turut dilibatkan dalam operasi tersebut, di antaranya KN Sarotama, KN Kalimasadha, dan KN Rantos.
Tak hanya unsur pemerintah dan BUMN, masyarakat serta para nelayan di sekitar Pulau Dongas juga turut ambil bagian dalam upaya pembersihan. Mereka membantu membersihkan beberapa titik pantai yang sempat terdampak limbah minyak akibat insiden kandasnya kapal tersebut.
Kepala Kantor KSOP Khusus Batam, Takwim Masuku, mengatakan bahwa penggelaran oil boom dan pengerahan peralatan penanggulangan pencemaran merupakan langkah darurat yang krusial untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih luas.
“Sejak awal kejadian, fokus utama kami adalah memastikan agar tidak terjadi pencemaran yang meluas ke perairan dan kawasan pesisir. Oleh karena itu, kami segera berkoordinasi dengan berbagai pihak dan bersama PT Pertamina Port & Logistic menggelar oil boom tambahan sepanjang 200 meter, serta menyiagakan skimmer dan pompa untuk mengendalikan potensi tumpahan limbah,” ujar Takwim, Senin (2/2).
Ia menjelaskan, perairan di sekitar Pulau Dongas merupakan wilayah yang cukup sensitif karena berdekatan dengan kawasan pesisir dan menjadi lokasi aktivitas masyarakat, khususnya nelayan. Jika tidak ditangani secara cepat, pencemaran dikhawatirkan dapat berdampak pada ekosistem laut serta mata pencaharian warga.
“Penggelaran oil boom ini bertujuan untuk menahan dan membatasi pergerakan limbah agar tidak menyebar ke area pantai yang lebih luas. Ini merupakan bagian dari prosedur standar penanggulangan pencemaran laut yang wajib kami lakukan,” katanya.
Takwim menambahkan, penanganan insiden ini melibatkan sinergi lintas instansi. Ia mengapresiasi dukungan seluruh pihak yang terlibat, mulai dari PLP Tanjung Uban, PT Pertamina Port & Logistic, hingga masyarakat dan nelayan setempat.
“Kami mengapresiasi dukungan seluruh pihak, termasuk personel kapal patroli dan masyarakat yang ikut membantu pembersihan di lapangan. Sinergi ini sangat penting agar penanganan insiden dapat berjalan cepat dan efektif,” ucapnya.
Sebagai langkah lanjutan, KSOP Khusus Batam juga telah melakukan pemindahan sebagian muatan Kapal LCT Mutiara Garlib Samudera ke kapal lain. Sehari sebelum penggelaran oil boom tambahan, sebagian muatan dipindahkan ke kapal tongkang TK. HC 160 dan kapal TB. Elang Tirta V.
“Pemindahan sebagian muatan kami lakukan untuk mengurangi beban kapal yang kandas sekaligus meminimalkan potensi pencemaran lanjutan. Langkah ini juga bertujuan mempercepat proses penanganan di lokasi kejadian,” jelas Takwim.
Ia memastikan, KSOP Khusus Batam akan terus melakukan pemantauan secara intensif hingga kondisi perairan di sekitar Pulau Dongas dinyatakan aman dan terkendali. Evaluasi berkala juga akan dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi potensi pencemaran yang dapat merugikan lingkungan dan masyarakat.
“Kami berkomitmen menjaga keselamatan pelayaran serta kelestarian lingkungan laut. Pemantauan akan terus kami lakukan sampai benar-benar dipastikan kondisi perairan aman,” tutup Takwim.(*)



