Sabtu, 7 Februari 2026

Industri Migas Batam Dinilai Berdaya Saing Tinggi

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Panitia Kerja (Panja) Migas Komisi XII DPR RI saat melakukan kunjungan kerja ke PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) di Kawasan Industri Terpadu Kabil, Batam, Kamis (5/2). F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Industri penunjang minyak dan gas bumi (migas) di Batam menunjukkan daya saing tinggi. Hal itu tercermin dari capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) yang mencapai 69,68 persen.

Capaian tersebut mendapat apresiasi Panitia Kerja Migas Komisi XII DPR RI saat kunjungan kerja ke Kawasan Industri Terpadu Kabil, Kamis (5/2). Kunjungan ini turut diikuti Ditjen Migas Kementerian ESDM, BPH Migas, serta SKK Migas.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Komisi XII mengaku kagum terhadap capaian dan kualitas produksi yang dihasilkan PT DSAW, khususnya dalam mendukung industri hulu minyak dan gas bumi nasional.


Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, mengatakan kunjungan Panja Migas ke Batam, khususnya kawasan Kabil, bertujuan melihat langsung industri-industri penunjang migas yang selama ini beroperasi di wilayah tersebut.

“Setelah kami tinjau langsung, ternyata Indonesia sudah mampu memproduksi barang-barang yang selama ini kita pikir belum bisa. Bahkan produk-produk tersebut memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang cukup tinggi, mencapai 69,68 persen,” ujar Bambang.

Baca Juga: TKA Ilegal di Proyek Strategis

Menurutnya, capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi penguatan industri migas nasional. Komisi XII berharap hal ini dapat mendorong peningkatan investasi di sektor migas dengan mengutamakan penggunaan produk dalam negeri.

“Kami memberikan apresiasi kepada PT DSAW yang terus berinovasi dan berinvestasi dalam pengembangan produk, sehingga semakin banyak produk migas nasional dengan TKDN tinggi,” katanya.

Bambang menjelaskan, bentuk dukungan Komisi XII antara lain dengan melakukan verifikasi dan memberikan rekomendasi kepada SKK Migas agar proyek-proyek migas ke depan lebih memprioritaskan produk dalam negeri.

“Kami tahu ke depan akan banyak proyek besar migas. Kami merekomendasikan agar barang-barang produksi dalam negeri didahulukan,” tegasnya.

Ia juga menilai Batam memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan Singapura. Namun demikian, hasil kunjungan menunjukkan bahwa industri di Batam memiliki daya saing yang kuat.

“Ternyata kita punya daya saing, bahkan di kawasan yang berbatasan langsung dengan negara lain,” ujarnya.

Terkait target peningkatan hulu migas nasional, Bambang menyebut pada periode 2026–2028 terdapat banyak proyek strategis nasional, termasuk proyek-proyek besar yang membutuhkan pasokan pipa migas.

“Kami berharap dari tinjauan ini ada hal-hal positif yang bisa kami rekomendasikan agar industri dalam negeri dapat lebih berperan aktif dalam proyek-proyek migas nasional,” katanya.

Baca Juga: Aliran Air Masih Mandek di Kampung Lama Tanjung Sengkuang, Warga Bergantung Air Tangki 

Meski regulasi telah mengatur prioritas penggunaan produk ber-TKDN tinggi, Bambang mengakui dalam praktiknya belum seluruh proyek konsisten menerapkannya.

“Kami mendorong konsistensi panitia pelelangan dalam menjalankan peraturan. Intinya bukan mendorong satu perusahaan atau merek, tetapi mendorong penggunaan produk dalam negeri dengan TKDN tinggi,” tegasnya.

Berdasarkan paparan yang diterima Panja Migas, kawasan industri di Kabil saat ini menyerap sekitar 15 ribu tenaga kerja.

“Ini sangat baik. Industri seperti ini tidak hanya mendukung migas, tetapi juga menyerap tenaga kerja dan berkontribusi langsung pada perekonomian,” tambah Bambang.

Pendiri Citramas Group dan KS Energy, Kris Taenar Wiluan, menyebut kunjungan Panja Migas Komisi XII DPR RI sebagai angin segar bagi industri penunjang migas nasional.

“Kunjungan ini merupakan bentuk dukungan dan perhatian DPR RI serta pemerintah kepada kami yang sejak 1980-an berupaya membangun industri migas agar Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” ujarnya.

Kris menuturkan, pada masa lalu banyak pabrikasi peralatan migas dilakukan di Singapura. Hal itu mendorong pihaknya membangun kawasan industri di Batam untuk mengurangi devisa keluar, membuka lapangan kerja, dan memperkuat industri nasional.

Saat ini, Kawasan Industri Terpadu Kabil telah dihuni hampir 50 perusahaan di atas lahan sekitar 550 hektare dan menyerap sekitar 15 ribu tenaga kerja, dengan lebih dari 95 persen merupakan tenaga kerja dalam negeri.

“Kami selalu memprioritaskan tenaga kerja lokal. Selain itu, kami juga memberikan beasiswa pendidikan bagi anak-anak di daerah ini,” katanya.

Baca Juga: BP Batam Pasang Target Tinggi 2027: Penyelesaian Soal Air hingga Pertumbuhan Ekonomi

Kris berharap ke depan pemerintah memberikan keberpihakan yang lebih kuat kepada industri dalam negeri agar dapat terlibat langsung dalam proyek-proyek migas nasional.

“Kami tidak meminta perlakuan khusus, hanya kesempatan. Produk kami diekspor ke banyak negara dan diterima perusahaan-perusahaan besar dunia. Artinya, kami kompetitif,” tegasnya.

PT Dwi Sumber Arca Waja (DSAW) didirikan pada 1995 dan merupakan bagian dari Citramas Group. Perusahaan ini menempati lahan seluas 9 hektare di Kawasan Industri Terpadu Kabil serta memiliki akses langsung ke pelabuhan internasional yang mampu disandari kapal-kapal berukuran besar.

DSAW memproduksi pipa baja berdiameter besar dan structural tubular yang dipasarkan ke dalam negeri maupun internasional. Produk-produk perusahaan ini telah mengantongi sertifikasi internasional dan digunakan pada konstruksi platform migas lepas pantai, jalur pipa darat dan laut, konstruksi sipil, hingga platform pembangkit listrik tenaga angin.

Dalam industri migas, DSAW memiliki kemampuan pembuatan pipa transmisi untuk kebutuhan onshore dan offshore, serta tubular structure untuk wellhead, central processing platform, dan jacket. (*)

ReporterYashinta

Update