
batampos – Batam tumbuh sebagai kota industri, perdagangan, dan pintu gerbang Indonesia ke dunia internasional. Namun di balik geliat ekonomi dan mobilitas manusia yang tinggi, tersimpan persoalan serius yang mengancam martabat kemanusiaan: human trafficking.
Kesadaran akan ancaman tersebut mendorong para tokoh lintas iman di Kota Batam untuk bersatu dalam Dialog Kebangsaan bertema Sinergi Lintas Iman Memutus Mata Rantai Human Trafficking, yang digelar di Pacific Palace Hotel, Seijodoh, Minggu (8/2). Forum ini menjadi ruang bersama untuk menyatukan nurani, melampaui perbedaan keyakinan demi satu tujuan: melindungi manusia dari praktik perdagangan orang.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Budi Dermawan, menegaskan bahwa posisi geografis Batam sebagai wilayah perlintasan internasional menjadikannya sangat rentan terhadap kejahatan kemanusiaan tersebut.
“Batam adalah pintu utama keluar-masuknya orang dari berbagai daerah dan negara. Di satu sisi ini peluang, tapi di sisi lain menjadi celah bagi praktik human trafficking. Ini yang harus kita waspadai bersama,” ujarnya, Senin (9/2).
Baca Juga: Polisi Ungkap Motif Pengeroyokan di Lubukbaja, Ternyata Dipicu Asmara Masa Lalu
Menurut Budi, memutus mata rantai perdagangan orang tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Pencegahan yang paling efektif justru dimulai dari penguatan nilai moral dan kesadaran masyarakat, di mana peran tokoh agama menjadi sangat strategis.
“Masalah ini bukan hanya tugas aparat. Tokoh agama punya tanggung jawab moral untuk memberi pemahaman kepada umat agar tidak mudah terjerat bujuk rayu, janji pekerjaan, atau praktik ilegal lainnya,” tegasnya.
Dialog ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang agama seperti Islam, Katolik, Protestan, Buddha, dan Hindu yang memberikan perspektif teologis tentang perlindungan martabat manusia. Meski berbeda ajaran, seluruh narasumber sepakat bahwa perdagangan orang adalah kejahatan serius yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Budi Dermawan mengapresiasi inisiatif Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAAK) Kevikepan Kepulauan Riau – Keuskupan Pangkalpinang bersama Yayasan Stella Maris Batam yang telah menghadirkan ruang dialog lintas iman tersebut.
“Kehadiran narasumber lintas iman ini sangat penting untuk memberikan edukasi dari sudut pandang teologis. Sinergi ini diharapkan melahirkan solusi nyata dan langkah preventif yang kuat,” katanya.
Baca Juga: Distributor Jamin Stok Beras di Batam Aman hingga April
Forum yang dipandu moderator RD. Agustus Dwi Pramodo ini diikuti sekitar 100 peserta dari unsur tokoh agama, perwakilan lintas iman, dan organisasi kepemudaan. Selain refleksi moral, dialog juga membahas berbagai modus operandi perdagangan orang yang kerap menyasar kelompok rentan.
Melalui dialog ini, peserta didorong untuk membangun jejaring kolaboratif antar-iman, memperkuat edukasi di tingkat akar rumput, serta merumuskan rekomendasi praktis guna mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di wilayah Kepulauan Riau.
Di tengah dinamika Batam sebagai kota perlintasan, sinergi lintas iman menjadi penanda bahwa perang melawan human trafficking bukan hanya soal hukum dan kebijakan, tetapi juga tentang keberanian menjaga nurani, solidaritas antarumat, dan komitmen melindungi martabat manusia. (*)



