Minggu, 15 Februari 2026

Jelang Ramadan, BI Kepri Dorong Transaksi Digital dan Waspadai Uang Palsu

spot_img

Berita Terkait

spot_img
Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). F. Istimewa

batampos – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepulauan Riau mempercepat digitalisasi transaksi menjelang Ramadan guna menekan risiko peredaran uang palsu dan menjaga kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat.

Kepala Perwakilan BI Kepri Ronny Widijarto mengatakan, optimalisasi pembayaran non-tunai melalui QRIS menjadi langkah strategis untuk meningkatkan keamanan sekaligus efisiensi transaksi, khususnya di Batam dan wilayah Kepri.

“Supaya tidak ribet, baik pedagang maupun masyarakat sebaiknya bertransaksi secara non-tunai. Sekarang QRIS sudah sangat mudah,” ujarnya, Jumat (13/2).


Baca Juga: Gelombang Deportasi Berlanjut, 148 PMI Dipulangkan melalui Batam

Menurut dia, penggunaan transaksi digital dapat meminimalkan potensi peredaran uang palsu yang biasanya meningkat saat perputaran uang tinggi, seperti menjelang Idulfitri.

Meski demikian, BI tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada saat menggunakan uang tunai. Edukasi metode 3D—dilihat, diraba, dan diterawang—terus disosialisasikan sebagai cara sederhana mengenali keaslian uang rupiah.

Ronny menilai metode tersebut masih efektif karena tingkat kemiripan uang palsu yang ditemukan relatif rendah. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama saat pembagian tunjangan hari raya (THR) dan lonjakan belanja Lebaran.

Selain edukasi, BI Kepri juga memperkuat koordinasi dengan perbankan dan aparat penegak hukum guna memantau potensi peredaran uang palsu. Masyarakat diimbau menukarkan uang hanya melalui jalur resmi, seperti perbankan dan layanan kas keliling BI.

Deputi Kepala BI Kepri Adidoyo Prakoso mengungkapkan, sepanjang 2025 ditemukan 1.045 lembar uang palsu di wilayah Kepri. Temuan tersebut tersebar di sejumlah daerah, termasuk Tanjungpinang dan Lingga.

Baca Juga: Ramadan Istimewa di Grand Mercure Batam Centre, Buka Puasa Dapat Undian Emas

Pecahan yang paling banyak dipalsukan adalah Rp100 ribu dan Rp50 ribu. Secara bulanan, temuan uang palsu bersifat fluktuatif, mulai dari 50 lembar pada Januari, meningkat menjadi 270 lembar pada Februari, turun ke 150 lembar pada Maret, lalu kembali naik pada April sebanyak 253 lembar dan Mei mencapai 282 lembar.

Menurut Adidoyo, laporan uang palsu berasal dari temuan perbankan maupun laporan masyarakat.

BI menilai penguatan sistem pembayaran digital yang diimbangi dengan peningkatan literasi masyarakat menjadi kunci menjaga keamanan dan stabilitas sistem pembayaran selama Ramadan. (*)

ReporterAzis Maulana

Update