
batampos – Lampion merah menggantung berderet di kawasan Nagoya, Lubuk Baja, Senin (16/2) malam. Tabuhan barongsai berpadu dengan sentuhan seni Melayu, menciptakan suasana hangat dan penuh kebersamaan dalam perayaan Tahun Baru Imlek 2557 Kongzili atau bertepatan dengan 2026 Masehi yang digelar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI).
Acara tersebut dihadiri Menteri Transmigrasi, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Di hadapan para tokoh masyarakat dan undangan yang memadati lokasi acara, Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengajak masyarakat menjadikan pergantian tahun sebagai momentum refleksi.
“Kita harapkan pergantian tahun ini sebagai ajang kontemplasi. Sebagai kaca tempat kita bercermin, melihat apa yang telah kita lakukan, apa yang sedang kita lakukan, dan apa yang hendak kita tuju di masa depan,” ujarnya.
Menurut Amsakar, esensi pergantian tahun mencakup tiga hal penting: mengevaluasi capaian tahun sebelumnya, merancang langkah di tahun berjalan, serta menetapkan arah masa depan yang lebih jelas.
Ia berharap semangat Imlek mampu memperkuat kolaborasi dan sinergi seluruh elemen masyarakat.
“Kalau semuanya di-arrangement dengan baik, insya Allah akan melahirkan harmoni yang indah. Itulah yang harus kita tuju bersama,” katanya.
Batam, Harmoni dalam Keberagaman
Amsakar menegaskan Batam sebagai kota yang kondusif dengan tingkat toleransi dan moderasi beragama yang tinggi. Keberagaman suku, agama, dan budaya dinilai menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas daerah.
“Keberagaman ini membuat Batam menjadi negeri dengan toleransi yang luar biasa. Moderasi beragama kita termasuk yang terbaik di Indonesia,” ujarnya.
Harmoni tersebut, lanjutnya, menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan daya saing Batam sebagai kawasan strategis nasional.
Setahun Kepemimpinan, Ekonomi Menguat
Menjelang genap satu tahun masa kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota, Amsakar memaparkan sejumlah capaian pembangunan.
“Kami dilantik tanggal 20 Februari. Empat hari lagi genap satu tahun. Saat ini sudah berjalan 11 bulan 27 hari,” jelasnya.
Pertumbuhan ekonomi Batam meningkat dari 6,6 persen menjadi 6,89 persen. Realisasi investasi pun melampaui target. Dari proyeksi Rp60 triliun, capaian investasi menembus Rp69,3 triliun atau 115,5 persen.
“Kami optimistis dengan keistimewaan Batam, pada 2029 pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 9,5 sampai 10 persen,” ujarnya.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Batam turut mengalami peningkatan dari 83,3 menjadi 83,8—tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau. IPM tersebut mencerminkan kualitas pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Angka kemiskinan juga turun signifikan dari 4,85 persen menjadi 3,81 persen pada 2025. Capaian itu mendapat apresiasi dari Kementerian Dalam Negeri.
PR Besar: Air Bersih
Di balik deretan capaian tersebut, Amsakar tidak menutup mata terhadap persoalan yang masih membayangi, yakni air bersih, sampah, dan banjir.
Untuk banjir, ia menyebut penanganan sudah menunjukkan hasil meski belum permanen. Pengelolaan sampah juga mulai membaik dengan dukungan pelaku usaha.
Namun persoalan air bersih menjadi tantangan paling kompleks. Saat ini terdapat 18 wilayah yang masuk kategori stress area pelayanan air.
“Anggaran BP Batam baru mampu mengatasi sembilan stress area. Sembilan lagi kita upayakan tahun depan,” jelasnya.
Ia meminta masyarakat bersabar sembari pemerintah terus mempercepat perbaikan sistem distribusi dan kapasitas layanan air bersih.
Perayaan Imlek 2557 yang digelar PSMTI malam itu, menjadi simbol kuat harmoni lintas etnis dan agama di Batam, sekaligus panggung penyampaian komitmen pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.(*)



