
Satu tahun duet kepemimpinan Amsakar Achmad dan Li Claudia Chandra menandai babak baru tata kelola Batam. Penyatuan kewenangan antara Pemerintah Kota Batam dan BP Batam mulai menunjukkan dampak positif, terutama pada perizinan dan iklim investasi. Capaian indikator ekonomi yang membaik menjadi sinyal awal keberhasilan, meski persoalan layanan dasar masih menuntut penyelesaian serius.
SELAMA bertahun-tahun, Batam hidup dalam paradoks. Di satu sisi, kota ini diposisikan sebagai etalase investasi Indonesia dan pintu gerbang ekonomi internasional. Di sisi lain, dunia usaha kerap dihadapkan pada prosedur perizinan yang panjang, tumpang tindih kewenangan, serta ketidakpastian kebijakan antara Pemko Batam dan BP Batam. Situasi itu membuat sejumlah investor bersikap wait and see, bahkan sebagian memilih menunda realisasi investasi.
Tahun pertama kepemimpinan Amsakar–Li Claudia menjadi momentum uji. Penyatuan komando tidak hanya diuji dari aspek politik, tetapi dari sejauh mana ia mampu menciptakan kepastian usaha, mempercepat pengambilan keputusan, serta memulihkan kepercayaan investor yang sempat terkikis.
BACA SELENGKAPNYA DI harian.batampos.co.id



