
batampos – Dalam kurun waktu sehari, dua kasus bunuh diri terjadi di Kota Batam. Peristiwa ini menambah daftar kasus serupa yang terjadi dalam sepekan terakhir.
Kasus pertama terjadi di kawasan Simpang Tobing, Kampung Rawa Indah, Batuaji. Seorang pria berinisial RS (26) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di kediamannya.
Sehari berselang, seorang pemuda berinisial SB (24) diduga mengakhiri hidupnya dengan melompat dari Jembatan III Barelang. Hingga kini, proses pencarian terhadap korban masih dilakukan.
Baca Juga: Amsakar Tegaskan 24.348 Pekerja Rentan di Batam Tetap Masuk Program Perlindungan
Menanggapi maraknya kasus tersebut, psikolog Mahmud Syaltut mengatakan faktor utama seseorang nekat mengakhiri hidup biasanya dipicu depresi dan tekanan psikologis berat.
“Faktor ini bisa dialami oleh siapa saja. Ketika seseorang tidak memiliki pegangan secara spiritual, mental, serta kurangnya dukungan dan motivasi dari keluarga, risikonya semakin besar,” ujarnya.
Syaltut menjelaskan, berdasarkan sejumlah penelitian dan kajian kasus, sebagian korban bunuh diri sebelumnya pernah melakukan percobaan serupa. Tanpa pendampingan dan penanganan yang tepat, tindakan tersebut berpotensi terulang.
“Bunuh diri itu jalan buntu. Mereka menganggap itu solusi terbaik, padahal bukan,” katanya.
Baca Juga: Rupiah Melemah: Pengusaha Impor Tertekan, Eksportir Batam Panen Untung
Ia menekankan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sekitar untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku seseorang yang mengalami depresi atau tekanan mental.
“Orang yang mengalami depresi harus didampingi dan dalam pengawasan. Karena jika merasa tidak ada jalan keluar, tindakan itu bisa saja diulang,” tutupnya.
Bagi masyarakat yang merasakan tekanan psikologis berat, para ahli mengimbau untuk segera mencari bantuan profesional atau berbicara dengan orang terdekat agar persoalan dapat ditangani sejak dini.(*)



