
batampos – Jajaran pejabat di lingkup BP Batam bersama Pemerintah Kota (Pemko) Batam melakukan inspeksi lapangan ke sejumlah titik rawan banjir, pada Jumat (20/2) kemarin. Peninjauan dipimpin Wakil Wali Kota Batam yang juga Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, menyusul hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sehari sebelumnya.
Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam, Mouris Limanto, mengatakan, tim gabungan turun langsung untuk mengidentifikasi penyebab genangan di kawasan padat aktivitas ekonomi. Salah satu lokasi yang diperiksa berada di sekitar Martabak Har, Nagoya.
“Di sana ruko-ruko dibangun dengan saluran yang ditutup. Sebagian memang ada drainase, tetapi kondisinya dipenuhi sampah,” kata Mouris, Minggu (22/2).
Selain Nagoya, rombongan juga meninjau kawasan Baloi, tepatnya di bawah Bukit Vista, yang kerap tergenang saat hujan intensitas tinggi. Kunjungan itu bertujuan memastikan seluruh unsur BP Batam dan pemerintah daerah bekerja langsung di lapangan.
“Pimpinan ingin memastikan semua tim turun dan bergerak. Setelah pengecekan, sore harinya kami langsung rapat bersama,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, lanjutnya, pimpinan BP Batam, termasuk Kepala BP Batam Amsakar Achmad, memberikan arahan agar pemanfaatan anggaran dipercepat serta koordinasi lintas instansi diperkuat guna menekan risiko banjir.
Mouris menjelaskan, rencana penanganan banjir sebenarnya telah disusun sejak pertengahan tahun lalu dan masih berjalan sesuai target. Namun, kebutuhan pembiayaan terbilang cukup besar sehingga pihaknya berupaya mencari dukungan tambahan dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
“Sebelum terjadi bencana banjir di Sumatera, kami sudah beraudiensi dengan kementerian dan mendapat respons positif. Setelah musibah itu, kami belum menindaklanjuti lagi, tetapi akan kami usulkan kembali melalui pimpinan,” kata Mouris.
Sejumlah pekerjaan fisik disebut telah dilaksanakan di beberapa titik, antara lain di Simpang Kepri Mall, Simpang Helm, serta sekitar Sekolah Mondial. Proyek yang menyerap biaya terbesar adalah pembangunan jembatan untuk menggantikan gorong-gorong pada lintasan Daerah Aliran Sungai (DAS), termasuk pembangunan kolam retensi di sejumlah lokasi.
Ia bilang, wilayah yang mendekati hilir membutuhkan pendekatan berbeda karena elevasi jalan hampir sejajar dengan muka air laut. Kondisi tersebut menuntut penggunaan sistem pompa agar air dapat dialirkan secara efektif saat hujan lebat.
“Di area hilir, solusi gravitasi saja tidak cukup. Perlu pompa karena level jalan sudah mendekati permukaan laut,” ujar dia.
Terkait kebutuhan anggaran keseluruhan untuk penanganan banjir secara menyeluruh di Batam, Mouris menyebut nilainya masih sangat besar dan belum dihitung secara final.
“Ultimate-nya memang besar. Kami belum menghitung total kebutuhan untuk penuntasan banjir di Batam,” katanya. (*)



